Apa yang anda lakukan diumur 68 tahun ? Akan ada banyak jawaban yang akan kita dengar. Mungkin sebagian orang yang sudah berusia 68 tahun mulai menjauhi aktifitas berat  beresiko atau tak berani lagi berpergian jauh dalam radius puluhan kilometer. Hanya sedikit orang yang pada usia 68 tahun masih aktif beraktifitas apalagi  menjadi relawan. Tak tanggung tanggung relawan disaster and relief yang membutuhkan nyali besar.  Relawan yang terjun ketika bencana datang.

Kita mungkin  sedikit tak percaya , bila pria sepuh ini sudah malang melintang diberbagai kejadian bencana. Pada usia 60 tahun pria ini datang ke Garut untuk menjadi relawan ketika Garut dihantam gempa berkekuatan 7,1 SR  pada 2 September 2009. Tugasnya ketika itu membuat shelter pengungsi dan instalasi listrik.

Pada tahun 2011, pria beristri Emy Yununsiah dan dikarunia tiga orang anak ( 2 wanita, 1 laki laki) ini kembali datang ke Palu , Sulawesi Tengah ketika longsor meluluh lantakkan pada tahun 2011. Datang membawa bantuan kemanusian dari  Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Berfoto didepan Posko Kemanusiaan (dok : pribadi)

Awal perkenalan pria yang menyukai  hidroponik ini  pada dunia relawan  terjadi pada tahun 2008 ketika banjir besar mengepung Bojonegoro. Banjir yang mulai menyergap  Bojonegoro sejak 26 Desember 2007 ini merendam tak kurang dari  149 desa di 15 kecamatan, merusak areal pertanian hingga 13.000 hektar. Banjir Bojonegoro menjadi awal pertemuannya dengan  dunia yang kelak akan lekat dengan pria yang gemar menenteng alat fogging ini.

Usia sepuh tak menjadi kendala bagi pria asal Bojonegoro , Jawa timur ini. Rambut yang telah memutih, tenaga yang telah berkurang nampaknya tak mengurangi semangat pria ini untuk berbagi ilmu. Biasa dipanggil Mbah Kaji Gholib ini terbilang pria yang tidak mau berpangku tangan.

Bernama lengkap Sunhaji Gholib atau juga  biasa dipanggil Abu Hessah. Pernah bertugas di Saudi Telecom Company Makkah selama 26 tahun. Berkutat di perusahaan telekomunikasi milik Kerajaan Saudi Arabia sejak tahun 1981 dan mundur karena pensiun pada tahun 2006.

Terus Berkarya untuk Kemanusian

Umur boleh saja terus bertambah namun karya seorang manusia tak boleh berhenti. Itulah salah satu motto yang ada didalam benak Sunhaji Gholib. Panggilan hatinya didunia kemanusian memang sudah tertanam kuat menghujam.

Bergabung menjadi relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dan sempat menjadi ketua koordiantor  daerah (korda) MRI untuk wilayah Bojonegoro. Kiprahnya di dunia kerelawanan terbilang luar biasa. Berkali kali , pria sepuh ini harus mengarungi perjalanan yang tidak dekat untuk membantu orang yang tertimpa musibah.

Menjadi relawan merupakan  salah satu obsesinya dalam hidup. Hingga saat ini, Sunhaji Gholib masih aktif bergerak dalam program kemanusian ACT/MRI. Hampir seluruh kegiatan ACT/MRI selalu diikutinya. Seperti Volunteer Camp Jawa Timur yang diadakan di Jember pada bulan Mei 2017.

Membagikan paket bantuan kemanusiaan (dok:pribadi)

Jarak Bojonegoro- Jember bukan jarak yang dekat. Jarak terentang sekitar 300 Km ini harus dilalui selama 6-7 jam perjalanan darat. Bagi Sunhaji Ghalib hal tersebut bukanlah penghalang untuk hadir dilokasi.

Ketika kejadian luar biasa (KLB ) Demam berdarah terjadi  di Bojonegoro pada tahun 2015. Sunhaji Gholib bersama tim relawan lainnya mengadakan fogging massal. KLB Demam Berdarah ketika itu melanda dua desa , desa Borno dan desa Buyut Dalem.

Banyak orang bangga menyadang kamera DSLR , gaya dan prestisius. Berbeda dengan Sunhaji Ghalib yang malah menenteng alat fogging yang tidak ringan. Keluar masuk kampung , menyambangi rumah rumah warga. Lihat saja bagaimana tangannya yang kurus harus beraksi dengan alat fogging , lincah dan cekatan.

Kegiatan fogging atau pengasapan ini menjadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan Sunhaji gholib, karena beberapa wilayah di Bojonegoro merupakan wilayah endemik DBD.

Selain fogging, Sunhaji Gholib juga sering membantu warga yang kesulitan air bersih. Kekeringan sering melanda beberapa wilayah di Bojonegoro. Membantu mengalirkan air dengan melakukan dropping air bersih menjadi salah satu kegiatan yang acapkali dilakukan pria berkacamata ini. Karena air merupakan kebutuhan vital yang harus ada.

Melakukan Fogging ketika KLB DBD melanda Bojonegoro (dok : pribadi)

Baginya, membuat orang lain bahagia membuat dirinya tetap fit. Maka, hampir seluruh kegiatan  distribusi kemanusian ACT/MRI selalu  diikuti Sunhaji Gholib. Ada cerita menarik ketika Sunhaji Gholib  bertemu dengan seorang wanita renta yang tinggal digubuk reot ketika membagikan paket bantuan Cak Budi . Saking terkesannya, Sunhaji Gholib menampilkan foto dirinya dengan sang nenek sebagai Profil Picture di WA pribadinya.

Sunhaji Gholib juga termasuk relawan serba bisa. Ketika harus mencari donasi. Sunhaji Gholib rela melakukan blusukan ke hampir semua sekolah di Bojonegoro untuk mengumpulkan beras untuk program  Kapal kemanusian yang akan dikirim ke negara negara Afrika yang menderita kekeringan dan kelaparan.

Hal serupa juga dilakukan Sunhaji Gholib ketika harus mendistribusikan daging hewan qurban saat Global Qurban berlangsung beberapa minggu yang lalu. Pekerjaan kemanusian menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sunhaji Gholib juga lekat dengan dunia pendidikan, pria yang suka sekali mengenakan rompi atau kaos ACT/MRI ini senang sekali berbagi ilmu tentang hidroponik.

Jangan heran bila suatu kali menjumpai pria ini sedang sibuk bersama siswa siswa  SMP melubangi paralon untuk media tanaman. Kegemaran Hidroponik menjadi berkah tersendiri bagi Sunhaji Gholib, banyak sekolah di Bojonegoro mengundang pria ini untuk menjadi pembicara tentang Hidroponik.

Ditengah kesibukannya, Sunhaji Gholib masih mau berbagi dengan 26 anak yatim dan dhuafa bersama Moslem Community. Sunhaji Gholib juga tercatat sebagai salah satu pengelola dari Yayasan Tahfid Ar Rayyan.

Bersama anak asuh yatim dan dhuafa (dok:pribadi)

Saat ini krisis kemanusian kembali terjadi di Rohingya, Myanmar. Kekejaman tentara Myanmar bukan saja menyakiti kaum muslim Rohingya, namun melukai seluruh umat Muslim dunia. Perbuatan melampai batas kemanusian ini sontak menuai kecaman dan kutukan dari seluruh belahan dunia muslim.

Begitu juga yang terjadi di kota Bojonegoro. Rasa solidaritas sesama muslim seperti satu tubuh , dimana bila salah satu tubuh menderita sakit maka anggota tubuh yang lain akan turut menderita.

Perasaan satu tubuh inilah yang membuat gelombang aksi solidaritas terjadi dimana mana . Penggalangan dana untuk membantu rakyat muslim Rohingya terus mengalir hingga ke pelosok desa , lalu aliran itu terus  membesar menjadi gelombang tsunami yang akan membangunkan rasa persaudaraan umat muslim dunia yang kuat.

Sunhaji Gholib juga tak mau ketinggalan untuk membantu muslim Rohingya. Penderitaan yang dirasakan muslim Rohingya juga dirasakan Sunhaji Gholib. Pria sepuh ini tak bisa lagi berpangku tangan. Rasanya berdosa bila tak bisa melakukan sesuatu untuk saudara muslim nun jauh diseberang lautan.

Sunhaji Gholib , pria yang telah berusia 68 tahun ini  akan terus bergerak untuk kemanusian. Semoga saja Mbah Kaji Gholib selalu diberikan kesehatan dan terus menjadi relawan MRI yang siap kapanpun terjun untuk kemanusiaan.

Ah, saya jadi malu.

Penulis : Rushan Novaly