Nama Cie Siti beberapakali saya dengar. Sepak terjangnya sebagai relawan bencana khususnya unit penyelamatan (rescue) dan pencarian (SAR) sudah saya dengar sebelumnya. Peraih penghargaan dari Pemda Kabupaten Sukabumi ini cukup familiar di kalangan relawan karena pernah juga di liput di ACT.id

Beruntung saya sempat bertemu dengan Cie Siti secara langsung di Kantor ACT Ciputat, saya pun berinisiatif untuk mewawancarai Cie Siti . Walau hanya memiliki waktu sedikit untuk bertatap muka, saya bisa merasakan jiwa kerelawanan Cie Siti yang menggelora. Tatapan matanya yang tajam menyiratkan nyali yang tidak mudah meyerah. Berani mengambil resiko.

Berikut hasil wawancara singkat dengan Cie Siti yang saat ini menjadi koordinator daerah (korda) Sukabumi di kantor ACT Ciputat pada Rabu (26/7/2017)

Kalau melihat tampilannya tak ada yang menyangka wanita berhijab  ini lekat dengan dunia penuh bahaya. Terlahir dari pasangan A. Sumarna dan Yuyun pada 18 September 1980 di Sukabumi ini bernama lengkap Siti Mariam . Ceu Siti biasa ia dipanggil.

Dunia yang mungkin tidak biasa bagi seorang wanita. Aktifitas menyelam, hiking hingga memanjat menjadi bagian dari kesehariannya. Pemegang sabuk hitam Karate ini  pernah terlibat dalam SAR pesawat Sukhoi yang jatuh di Gunung Salak .

Cie Siti memang penggemar berat aktifitas outdoor. Kegemarannya ini dimulai  sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Kegiatan seperti Pramuka menjadi favoritnya. Karena kegemarannya itulah Cie Siti berkenalan dengan banyak komunitas pencinta alam, institusi SAR hingga komunitas relawan bencana.

Kiprahnya didunia relawan terbilang  panjang. Baginya dunia relawan seperti rumah kedua. Saat ini Ceu Siti tergabung didalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sukabumi. Wanita yang tinggal di Parung Kuda , Sukabumi ini memang  relawan kebencanaan serba bisa,  punya ketrampilan penyelamatan laka (Kecelakan) laut atau water rescue, vertical rescue, hingga SAR Gunung.

Cie Siti ditengah para relawan dalam sebuah kegiatan (sumber : ACT.id)

Menolong Korban di Cerobong Asap PLTU Pelabuhan Ratu

Rabu (21 Juni 2017)  , menjadi kisah tersendiri bagi Cie Siti. Di bulan Ramadhan, ketika seluruh umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa. Suasana Ramadhan siang itu berubah ketika satu panggilan masuk dari Basarnas . Siang itu  Cie Siti mendapatkan informasi  adanya 7 orang yang terperangkap di lift PLTU Cipatuguran, Palabuhan Ratu yang macet.

Tiga orang terperangkap di lantai 4 sedang empat orang lainnya terperangkap di lantai 7. Lift dinyatakan tidak berfungsi sejak pukul 10.00 WIB. Tim Basarnas menghubungi  Cie Siti dalam kapasitas relawan MRI yang punya kemampuan vetical rescue.

Aksi penyelamatan ini memang tergolong sulit karena ketinggian tiap lantai mencapai 35 meter, lantai 4 saja mempunyai ketinggian 105 meter sedang lantai  7 memiliki ketinggian hingga 210 meter. Menurut Cie Siti, bangunan cerobong asap PLTU Cipatuguran merupakan bangunan tertinggi yang ada di Sukabumi.

Cie Siti bersama tim lainnya memulai evakuasi dengan memanjat cerobong asap menggunakan tali karena tidak ada tangga darurat. Ketinggian cerobong dan waktu yang terbatas membuat tim harus membuat keputusan cepat. Seluruh tim penyelamat yang dikomandoi Basarnas Sukabumi harus memaksimalkan bantuan.

Yang menjadi kendala adalah tali yang dibutuhkan, untuk kebutuhan  tali beruntung bisa difasilitasi Polres Sukabumi walaupun tali baru bisa sampai ke TKP pada pukul 21.00 .  Upaya penyelamatan dilakukan malam itu juga. Yang tak kalah penting dan urgen, tim harus mengirimkan ransum makanan dan minuman untuk para korban.

Mengingat kejadiannya sudah lebih dari 6 jam, maka dikhawatirkan korban bisa lemas karena tidak mendapat pasokan makanan dan minuman. Tim yang terlibat  dalam upaya evakuasi seluruhnya berjumlah 6 orang . Upaya menaikkan makanan dimulai sejak 18 :00 WIB dan baru bisa sampai ke Lantai 7 pada jam 03:00 dini hari.

Cie Siti mengungkapkan tingkat kesulitan mengevakuasi korban, karena setiap anggota tim harus mampu bertahan di atas ketinggian dengan tali. Korban pertama yang diselamatkan  berada dilantai 4 sebanyak tiga orang.

Semua korban dilantai 4 berhasil diturunkan menggunakan tali satu per satu. Alhamdulillah, ketiganya selamat dan hanya menderita kelelahan dan trauma.

Perjuangan belum selesai, karena masih ada korban dilantai 7 yang merupakan lantai paling atas. Dengan ketinggian lebih dari 200 meter. Cie Siti dan tim penyelamat terus berkejaran dengan waktu. Karena bukan tidak mungkin, korban mengalami gangguan pernapasan, Walaupun , posisi korban berada di tempat yang bebas asap cerobong.

Proses penyelamatan akhirnya membuahkan hasil , empat korban dilantai 7 berhasil diselamatkan seluruhnya walaupun harus berjuang lebih dari 15 jam . Cie Siti merupakan satu satunya perempuan dalam tim penyelamat.

Cie Siti memegang piagam penghargaan dari Pemda Kabupaten Sukabumi (sumber : ACT.id)

Keberhasilan penyelamatan ini mendapatkan perhatian khusus pemerintah daerah kabupaten Sukabumi. Cie Siti termasuk dari salah satu orang yang mendapatkan penghargaan dari pemda Sukabumi. Walau sejatinya, tak terlintas dipikirannya untuk mencari pujian atau penghargaan, menolong orang itu tanpa pamrih.

Penyelamat yang Tak Kenal Lelah

Takut ? Mungkin ada di hati Cie Siti . Sebagai manusia biasa , wajar bila perasaan takut itu ada. Apalagi wilayah penyelamatannya seringkali di laut selatan jawa yang terkenal memiliki ombak dan arus yang kuat.

Tapi perasaan lelah nampaknya tak ada dalam kamus Cie Siti. Wanita  yang biasa berkomunitas ini sudah menginternalisasi jiwa relawan kemanusian.Bayangkan, ketika Cie Siti baru saja dirawat di rumah sakit , ia mendengar ada orang hilang di gunung salak. Tanpa banyak pertimbangan lagi , Cie Siti langsung berangkat ke Gunung Salak untuk melakukan pencarian bersama tim lainnya.

Rasanya, sudah tak terhitung operasi penyalamatan dan SAR yang dilakukan Cie Siti. Mulai dari penyelamatan korban di laut , gunung, hingga penyelamatan ketinggian (vertical rescue).

Ketika ditanya apa perasaan Cie Siti setelah berhasil menolong orang lain , jawaban wanita asal pasundan ini cukup sederhana, “senang ketika melihat orang bisa berhasi ditolong” .Bahkan ada timbul perasaan kecewa bila tidak bisa ikut turun membantu orang lain.

Dalam catatan panjangnya, Cie Siti telah banyak menorehkan kisah kisah penyelamatan. Bahkan Cie Siti rela meninggalkan pekerjaannya untuk fokus menjadi relawan penyelamat . Tak banyak orang yang mampu melakukan pekerjaan penyelamatan yang dilakukan Cie Siti , dan tak banyak pula orang yang berani mengambil resiko dengan mempertaruhkan nyawa.

Cie Siti merupakan tipe relawan yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan orang lain. Ia bahkan siap berangkat kapan saja dan kemanapun tugas penyelamatan harus dilakukan.  Wanita penyuka traveling dan naik gunung ini bahkan bercita cita memiliki sekretariat sendiri, agar memudahkan kepengurusan organisasi MRI. Selain itu Cie Siti juga bercita cita ingin membangun sarana rekruitmen bagi masyarakat Sukabumi yang ingin bergabung menjadi relawan MRI. ( Novaly Rushan)

[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]