Lombok Tengah, 5 Agustus 2018….

Subbahanallah. .. walhamdulillah. .. Walaaillahaa”ilallah. .. Wallahuakbar.

Shalawatan yang di kumandangkan anak-anak kecil selepas shalat Isya di Masjid depan rumah, menjadi hal lumrah di kampungku. Langko, Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah. Terkadang suara desing microphone cukup mengganggu karena anak-anak yang berebutan untuk mengeraskan suara mereka.

Rumah roboh akibat gempa berkekuatan 7,0 SR pada 5 Agustus 2018

Suara orang-orang tua pun terdengar samar memarahi mereka. Namun malam itu berbeda. Desingan microphone berbunyi lebih nyaring setelah dentuman cukup keras. Sepertinya microphone itu terjatuh. Suara takbir, tahmid, tahlil dan segala macam pujian pada Allah Azza wa Jalla terdengar samar tertangkap microphone. Suara tangis dan jeritan anak-anak yang shalawatan di masjid tadi kian kencang dan menjadikan suasana semakin mencekam. Suara hingar bingar kampungku menjadikan keadaan semakin panik dan entah bagaimana, kesunyian seketika menyelimuti seluruh kampung.

Hanya suara hentakan kaki yang banyak dan bergemuruh serta peng-Agungan pada Allah Azza wa Jalla yang terdengar. Dengan sigap, aku menggendong keponakanku dan meneriaki mama serta kakak iparku untuk lari mendekat ke arahku. Dalam waktu beberapa detik, untuk pertama kalinya dengan mantab aku yakin hitungan matematikaku tidak melenceng mengenai jarak dan bayangan.

Aku sudah berdiri di halaman yang aku rasa cukup aman jika bangunan sekolah dan masjid yang hanya berjarak kurang dari 10 meter dari rumahku runtuh seketika. Malam itu terjadi gempa, dalam durasi waktu yang cukup lama dan getaran yang mengerikan. Mati lampu. Allahu Akbar, belum selesai kepanikan kami, bumi yang kami pijaki saat itu kembali berguncang.

Korban gempa yang harus tinggal ditenda tenda karena rumah tidal bisa lagi dihuni (dok : MRI)

Guncangan itu terasa semakin besar seiring dengan semakin ramai dan bergetar suara takbir. Aku sempat berfikir bahwa betapa indahnya Lombok malam ini karena Jutaan manusia sedang Bertakbir mengagungkan Allah hampir di setiap sudut Pulau Lombok. Astagfirullah, bukan saatnya memikirkan hal-hal begitu. Karena bahkan tanah yang aku pijaki saat ini sedang bergoyang.

Ibuku adalah perempuan yang tegar. Namun malam itu, untuk pertama kalinya aku menyaksikan beliau bergetar dan lemas, pun dengan kakak iparku. Mau tidak mau, aku harus menjadi dewasa saat ini. Aku harus bisa menenangkan mereka. Karena jika aku takut maka semakin mencekamlah keadaan kami.

Dengan tekad sepenuh hati, aku sampaikan pada mereka untuk beristigfar. Kami bertiga saling merangkul dengan bacaan istigfar yang begitu syahdu, bergetar dengan penuh rasa harap dan takut. Alhamdulillah, keadaan mencekam itu berhasil kami lewati. Alhamdulillah pula, keponakanku yang aku gendong dan yang di gendong kakak iparku terdiam tanpa menangis.

Ibuku sibuk menelpon mamik (Bapak) dan Kakak Iparku menelpon suaminya. Malam itu juga, saat suasana sudah tenang, aku sampaikan harus segera kembali ke Mataram. Aku harus ke lokasi gempa. Karena aku adalah Relawan. Penolakan sudah pasti tejadi. Orang tua mana yang tega melihat anak gadisnya mendekati lokasi gempa saat orang tua yang lain menyuruh anaknya pulang kampung berkumpul bersama keluarga. Setelah perdebatan panjang dan penjelasan detail, orang rumah mengizinkan aku ke Mataram.

Langko, 6 Agustus 2018….(07: 00 WITA)

Besok paginya  aku berangkat ke Mataram. Jalanan yang biasanya ramai lancar berubah menjadi sunyi senyap. Toko-toko tutup. Rumah kosong. Bangunan banyak yang retak, hancur, roboh bahkan sampai tidak berbentuk lagi. Aku seakan hidup sendirian di muka bumi. Ya Allah, kemana orang-orang pergi. Sandal-sendal, sepatu, topi, bahkan dompet yang berserakan di jalanan semakin menambah suasana menjadi mencekam.

Tidak menunggu waktu lama setelah sampai di Mataram, aku menuju ke Posko Induk ACT. Rapat Koordinasi dan persiapan sudah di lakukan sejak 29 Juli, saat gempa pertama. Jadi kantor tidak sepi saat itu. Mereka yang berada di Kantor ACT adalah orang-orang hebat menurutku. Mereka sibuk mendekat saat orang-orang menjauh dan memilih pulang berkumpul bersama sanak saudara. Aku tergabung di Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) sehingga sudah otomatis bergabung bersama Team ACT. Mulai hari ini relawan dari berbagai daerah mulai berdatangan menuju lombok. Ada yang datang melalui darat atau melalui jalur udara. Semakin hari semakin banyak yang datang.

Keadaan di Posko Induk ACT Gempa Lombok bertambah ramai, lalu lalang orang dengan satu tujuan membantu korban gempa. Kebanyakan sudah langsung terjun ke Lokasi bencana untuk penanganan tanggap darurat. Aku dan dua teman perempuanku akhirnya mendapat bagian di posko Induk.

Bantuan logistik yang bertangan dari berbagai daerah menuju Lombok (dok:MRI)

Kami stay di kantor. Aku mendapat bagian pencatatan logistic keluar dan masuk. Dua hari pertama dengan agak sungkan aku menjalankan tugas tersebut. Bukan karena aku tidak suka atau karena malas, melainkan karena jiwa dan semangatku yang menggebu ingin segera turun ke lapangan, ke lokasi bencana.

Lagipula, aku izin ke orang tuaku untuk untuk menjadi relawan di lokasi bencana. Bukan hanya menjadi relawan bencana Gempa Lombok. Hari hari berikutnya aku masih merasa berat untuk datang ke kantor namun tetap melaksanakannya. Pikiranku masih terbayang bayang ke lokasi bencana. Dan orang-orang di posko induk tahu hal itu. Karena mereka adalah keluarga ku di ACT-MRI NTB. Mereka tahu bahwa aku tidak bisa hanya diam di dalam ruangan. Nasihat, peringatan, pertanyaan mulai berdatangan kepadaku. Kamu bisa apa di lapangan. Bisa rescue enggak untuk mengevakuasi korban. Bisa medis tidak untuk mengobati korban. Sudahlah, kamu di kantor saja dulu. Besok-besok, pasti akan ada waktunya kita terjun ke lapangan. Tapi tidak sekarang. Aku mulai sadar diri setelah itu. Mereka benar, aku bisa apa di lapangan nanti. Tanpa kapasitas ilmu dan pengalaman yang memadai.

Mataram, 8 Agustus 2018

Seluruh pengurus ACT-MRI NTB di kumpulkan untuk pembekalan di markas kami yang menjadi Posko Induk ACT untuk Gempa Bumi . Yang paling aku ingat adalah saat Pak Ruli Renata, Beliau menyampaikan nasihat yang aku tulis ulang dalam bahasaku dengan makna yang sama bahwa dimanapun kita di tugaskan dalam bencana gempa Lombok ini, itu tidak akan mengurangi kemuliaan kita sebagai relawan. Insyaa Allah pahala kita akan tetap sama, baik itu di lapangan maupun di posko induk. Tinggal bagaimana kita totalitas dalam melaksanakan amanah ini. Setiap posko harus di isi. Kita tidak bisa egois untuk menuruti keinginan untuk turun ke Lapangan semuanya.

Harus ada yang berdiam di posko Induk. Karena semua orang punya peran masing-masing. Aku ingat sekali bahwa Pak Juani Pratama atau biasa di panggil pak Tatang adalah yang berkomentar pertama. Beliau langsung bilang ttuuhhhh Jess, dengerin. Jangan mau kabur ke Lapangan aja. Aku hanya bisa tersenyum getir. Satu sisi apa yang beliau-beliau nasihatkan adalah benar, namun di sisi lain aku tidak bisa terus meredam diri bahwa aku ingin ke lapangan untuk berjumpa dan bersosial dengan korban terdampak di lokasi yang parah walaupun aku termasuk salah satu korban terdampak pula, walaupun tidak parah. Aku rasa, semua warga Lombok adalah korban terdampak dalam bencana ini.

Posko kemanusian ACT, menjadi lokasi para relawan untuk beraktifitas membantu para korban gempa Lombok (doc : MRI)

Posko Induk ACT, 9 Agustus 2018…

Besoknya, aku di hubungi oleh pengurus salah satu komunitas yang aku ikuti untuk mengambil gambar di lokasi bencana. Katanya agar ada perwakilan dari komunitas kami yang bekerja sama dengan dengan ACT di lapangan, tujuannya adalah untuk menggencarkan penggalangan donasi. Dan inilah kesempatan emas dan alasan untuk terjun ke lapangan. Pak Ruli yang menjadi penanggung jawab relawan waktu itu memberiku izin untuk turun ke lapangan. Tujuanku tidaklah jauh karena aku hanya izin 2 hari. Posko Wilayah Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat adalah tujuannya. Dua hari di Posko Gunung sari tidak seperti lokasi terdampak yang aku bayangkan. Akhirnya hari ke tiga dimana aku harusnya kembali ke Posko Induk aku gunakan untuk pindah posko ke yang lebih jauh. Posko Wilayah Kayangan Kabupaten Lombok Utara. Perpindahan Posko ini aku lakukan sebagai penambahan tugas untuk pengambilan dokumentasi sekaligus ajang kabur dari posko utama.

Senyum bahagia anak anak Lombok ketika Relawan mengajak bermain (dok : MRI )

Bukan aku tidak mengindahkan nasihat-nasihat Bapak kami di ACT-MRI, tapi aku tidak bisa terus menerus menahan diri untuk bekerja di zona nyaman. Karena jiwaku tidak di sana. Aku lebih suka bekerja dengan tantangan tinggi dalam suasana yang lebih genting. Sepanjang perjalanan dari Gunung Sari Lombok Barat ke Kayangan Lombok Utara membutuhkan waktu sekitar 2 jam karena jalanan kecil dan macet bekas longsoran, aku mengingat ingat kembali nasihat waktu kami pembekalan di posko Induk. Bapak memang benar, saya sepakat. Tapi maafkan saya, saya tidak bisa terus terusan di kantor. Saya lebih menyukai lapangan. Biarlah teman-teman yang lain yang berjaga di posko induk. Toh juga kita akan sama-sama mendapatkan pahala atas yang kita niatkan dan yang kita kerjakan. Dua hari setelah aku menginap di Posko Kayangan, aku meminta tolong kepada Koordinator Posko Kayangan. Eceu Maryam untuk melaporkan keberadaanku di Kayangan ke Posko Induk bagian data relawan agar aku masuk data dan menjadi relawan legal ACT-MRI. Kelak, akan aku kisahkan apa yang terjadi di Posko Wilayah Kayangan.

 

Seperti yang dituliskan Jessa Dara-Relawan asal Langko, Lombok Tengah dengan koreksi seperlunya -Admin