Roda pesawat yang saya tumpangi akhirnya mendarat mulus di Bandara Sultan Hasanudin , Makasar. Perjalanan udara Jakarta- Makassar ditempuh dalam 2 jam perjalanan.

Sejenak saya melirik jam tangan yang masih menunjukkan angka 11. Padahal seharusnya bila mengikuti waktu Makassar seharusnya  sudah menunjukkan angka 12 tengah malam. Karena ada perbedaan waktu antara Indonesia barat dan tengah selama 1 jam.

Saya segera bergegas menuju ruang pengambilan bagasi. Tas yang saya bawa cukup besar, penuh dengan tools qurban.  Walau sebagian sudah dikirim melalui paket tetap saja saya harus membawa barang bawaan cukup banyak. Merepotkan sih, tapi mau gimana lagi. Kan, tidak mungkin saya tinggal di bandara.

Tugas saya ke Makassar sebenarnya sebagai tim monev program Global Qurban ACT. Dengan label ‘monev’ saya akan berkeliling wilayah untuk memastikan program pengadaan, penyembelihan, pendistribusaian hingga pelaporan berjalan sesuai prosedur.

Saya adalah satu satunya orang yang diutus untuk mengawal program Global Qurban berjalan sukses di Provinsi Sulawesi Selatan. Sesuai rencana yang saya bawa dari kantor ACT Ciputat, saya akan mengunjungi Luwu, Tana Toraja, dan Tana Toraja Utara.

Sebenarnya saya tak mau membayangkan rentang jarak yang akan saya tempuh. Pastinya cukup jauh, belum lagi info awal yang saya dengar sebagian besar infrastruktur jalannya rusak. Dan saya harus menggunakan transportasi darat. Lengkap sudah.

Tapi tekad saya sudah bulat, misi mensukseskan program Global Qurban harus saya laksanakan. Tak ada tawar menawar. Walau sejatinya saya masih dalam suasana duka, karena baru tiga hari , saya kehilangan ibu yang wafat karena sakit stroke. Semoga ibu mendapatkan kelapangan di alam kubur dan diberikan balasan surga. Aamiin.

Suara gema takbir membahana diseantero kota Makassar, besok adalah hari raya Idul Adha. Mobil yang saya tumpangi langsung menuju hotel. Saya harus merehatkan tubuh sejenak. Karena besok perjalan jauh sudah menanti.

Pendistribusian daging qurban di Tana Toraja Utara (dok : ACT)

Jadwal saya besok pagi adalah briefing dengan tim lokal. Memastikan tim lokal meyiapkan rencana dan menjalankannya dengan tepat. Salah satu keberhasilan program Global Qurban adalah kemampuan tim untuk mengelola program, menentukan titik lokasi yang pas.

Mengarungi Perjalanan Darat yang Menantang

Briefing pagi setelah sholat Idul Adha berjalan lancar. Kesiapan tim lokal cukup bisa diandalkan. Kota Makasar sepenuhnya saya percayakan pada tim lokal. Saya akan melalang buana menuju wilayah di luar kota Makassar.

Tujuan pertama , saya adalah Kabupaten Luwu. Dari Makassar jarak Kabupaten Luwu sekitar 350 Km, dengan asumsi perjalanan darat sekitar  9 jam. Saya dan tim berangkat dengan dua mobil. Bergerak dari Makassar sekitar jam sepuluh pagi.

Jalan Makassar – Luwu menjadi trek pertama. Awalnya sih jalan cukup lancar ‘aman terkendali’, namun begitu sudah jauh dari Makassar, jalan mulai ‘beraksi’. Mobil yang saya tumpangi tak bisa lagi dipacu secara maksimal karena jalan mulai rusak.

Di Luwu lokasi pemotongan berjalan lancar. Tak banyak kendala yang ditemui . Setelah mengambil dokumentasi penyembelihan dan dokumentasi pendistribusian saya bersiap meneruskan perjalanan. Tujuan saya adalah Tana Toraja Utara. Tepatnya sebuah desa di Kecamatan Nanggala.

Desa yang saya tuju bernama desa Nanggala. Di desa ini jumlah muslim minoritas, hanya ada 20 KK atau sekitar 60 jiwa. Di desa ini saya bertemu seorang wanita berusia sekitar 50 tahun. Ibu inilah yang menerima saya dengan terbuka dan penuh keramahan.

Dalam percakapan, baru saya ketahui kemudian bahwa ibu ini sorang muallaf. Ia pun menghibahkan sebagian rumahnya untuk dijadikan mushola dengan luas 3 X 5 meter persegi. Rumah sederhana yang hanya terbuat dari kayu, berlantai semen dengan atap seng.

Saya mendapati cerita , di desa ini pemotongan hewan qurban sangatlah jarang. Bertahun-tahun, baru kali ini ada pemotongan dan pendistribusian daging qurban.  Hampir saja salah satu syariat Islam terlupakan di desa yang hanya memiliki satu mushola dan satu sarana pendidikan Islam berbentuk TPA.

Saya cukup terharu, upaya sang ibu untuk menyekolahkan semua anaknya di sebuah pesantren yang jauh dari desanya. Upaya ini agar seluruh anaknya bisa mendapatkan pendidikan Islam yang layak. Karena di desa Nanggala tak ada pendidikan Islam yang cukup.

Ditempat ini ACT menyalurkan hewan qurban, dan membuat gembira para penduduk desa. Senyum tulus para penduduk desa membuat hati saya puas. Lelah dalam perjalanan seperti menguap. Hilang, tergantikan kepuasan yang sulit untuk dijelaskan.

Menuju Makale di Sisi Bukit

Perjalanan belum usai. Masih ada satu tempat yang harus saya kunjungi. Desa Bone Buntu Sisong. Desa ini tergolong terpencil. Jalur untuk ke desa ini juga cukup ekstrem, karena disisi kanan jalan menganga jurang.

Bayangkan dari Kota Kecamatan Makale Selatan dibutuhkan 3 jam perjalanan. Dengan kontur jalan naik turun dengan jalan rusak. Di desa ini ada 72 KK yang beragama Islam. Sama dengan desa sebelumnya, penyembelihan hewan qurban di desa ini hampir terlupakan.Untuk itulah ACT memberi proritas untuk desa ini.

Selain desa terpencil, di desa ini umat muslim tergolong minoritas. Apalagi keadaan ekonomi tergolong kekurangan. Maka kehadiran ACT dengan penyaluran hewan qurban menjadi setetes air dikala dahaga menikam. Wajah-wajah gembira ketika menerima paket daging , menikmati santap makan malam istimewa bersama keluarga.

Amanah pequrban telah saya sampaikan hingga jauh di pedalaman Sulawesi Selatan, sementara gelap mulai turun. Secara nasional Global Qurban ACT telah menyambangi 200 kota dan kabupaten di Indonesia, sebuah gawe besar telah saya selesaikan. Saya pun bersiap untuk kembali ke Kota Makasar.  Lalu melanjutkan perjalan ke Jakarta.

Walau harus menembus jalan beratus ratus kilometer , saya tak lagi merasakan. Karena amanah yang telah ditunaikan membuat saya gembira. Hati saya puas. Suatu hari kelak, kenangan saya akan bumi Sulawesi akan menjadi kenangan indah.

Menyambangi saudara muslim yang hidup damai ditengah perbedaan agama. Ah, saya jadi ingat bhinneka tunggal ika. Apa kabarnya saudara muslim di belahan bumi lainnya ? Semoga mereka bisa hidup bahagia.

 

*seperti yang diceritakan Eka Setiawati – Spv HND

Disusun : Novaly Rushan