Jakarta (3/7)- Info Gunung Agung erupsi memang bikin ketar ketir, Gunung yang pernah erupsi tahun kemarin ini kembali aktif memuntahkan lava, senin (2/7) sekitar jam 21.07 WITA. Penduduk sekitar Gunung dikagetkan dengan lontaran lava pijar ke udara disertai suara gemuruh yang bisa didengar hingga 4 Kilometer.

Tim relawan disaster emergency respon (DER) Bali tak menunggu waktu lama untuk segera berkemas menuju posko di Denpasar untuk berkoordinasi sebelum meluncur menempati pos masing masing. Kerja menanggulangi erupsi gunung memang harus cepat. Lambat berarti korban akan berjatuhan.

Relawan MRI Bali melakukan patroli untuk menghindari warga berada di zona merah (dok:MRI Bali)

Beruntung bila memang ini kata yang boleh digunakan , Erupsi Gunung Agung yang terjadi beberapakali di tahun 2017 telah banyak memberikan pelajaran penting. Baik bagi pemerintah setempat, institusi penanggulangan bencana, relawan emergensi dan tentunya masyarakat sekitar Gunung Agung.

Posko pengungsian juga dengan cepat bisa difungsikan. Masyarakat dengan cepat turun menjauhi zona merah. Begitu juga dengan relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) wilayah Bali dan Korda MRI Karangasem. Dengan cepat mengambil peran penanggulangan bencana gunung api. Sebagian langsung berkoordinasi dengan instansi terkait.

Sebagian relawan lain membuat aksi pembagian masker untuk pengguna jalan yang terdampak abu vulkanik yang bisa membahayakan saluran pernapasan. Abu vulkanik mengandung zat sulfat, karbondioksida, dan asam klorida. Partikel abu vulkanik juga bersifat tajam dan mengganggu kesehatan. Inilah kenapa relawan mengambil inisiatif membagikan masker. Paling tidak , masker bisa mereduksi bahaya abu sehingga tak membawa dampak serius bagi kesehatan tubuh.

Tinggi kolom mencapai 2000 meter menuju arah barat (dok : MRI Bali)

Ribuan Warga Mengungsi

Erupsi Gunung Agung pada senin (2/7) diikuti erupsi kembali keesokan harinya (3/7) membuat warga yang tinggal di lima kecamatan sekitar gunung mengungsi, Kecamatan Selat,  Abang, Kubu, Rendang dan Kecamatan Bebandem . Ada sekitar 10 desa yang terdampak langsung . Yang terbanyak memang berada di Kecamatan Rendang.

Warga mulai mengungsi menuju titik titik aman, sebagian memilih tinggal di rumah sanak saudara (dok : MRI Bali)

Di kecamatan Rendang ada tiga titik pengungsian, Terminal Kedundung, Lapangan Rendang dan UPTD Pertanian Rendang. Ada lima desa terdampak :  desa Temukus,desa Simpatik, desa Batu Madeg, desa Besakih dan desa Sebudi. Jumlah pengungsian di kecamayan Rendang mencapai 1700 jiwa. Jumlah yang cukup besar. Relawan MRI Bali pernah mengelola posko pengungsian UPTD Pertanian Rendang,

Pendirian dan pengelolaan posko pada bencana Gunung api mutlak diperlukan, karena jumlah pengungsi cukup besar dan jangka waktu yang sulit diprediksi karena waktunya bisa bermingggu bahkan bisa berbulan bulan. Perkembangan Gunung api erupsi memang sulit untuk ditebak.

Pengetahuan tentang manajeman posko, pengenalan tanda bahaya , koordinasi dengan instansi  terkait adalah salah satu hal penting yang harus dikuasai relawan. Pembelajaran penanganan bencana memang butuh teori namun belajar dengan metode Learning By doing  nampaknya jauh lebih cepat dan efektif.