Relawan Gholib

“Menjadi ‘relawan’ itu panggilan jiwa jadi harus dengan keikhlasan. Kalau takut sengsara, capek & tidak dapat apa-apa sebaiknya diurungkan niatnya. Sebab ujung-ujungnya akan kecewa. Disinilah pentingnya jiwa kerelawanan,” ujar Gholib, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bojonegoro, Jawa Timur.

Lebih lanjut kata Gholib, “dalam jiwa saya, jadi relawan itu ‘Badai’, ada kepuasan tersendiri yang tidak kita peroleh di tempat lain walaupun yang kita berikan bukan milik kita (lebih-lebih kalau milik sendiri). Semakin sering kita ‘action’ semakin badai puasnya. Senyum dari ibu-ibu/bapak-bapak yang menerima bantuan menjadi semangat untuk tetap tegar & peduli.

Saya terkesan ketika ada ibu-ibu/bapak-bapak tua denga tulus berdoa untuk keselamatan kami, kemajuan & kesuksesan Aksi Cepat Tanggap (ACT)/MRI. Mungkin ada yang berfikir: Kita bisa seperti ini karena kegigihan kita atau kehebatan program-program yang kita jalankan. Tapi seringkali kita lupa doa yang dipanjatkan oleh ibu-ibu/bapak-bapak & orang-orang yang tertimpa musibah. Bukan mustahil doa-doa mereka pun punya andil disini, wallahu a’lam. Itulah mengapa saya tidak pernah merasa kecewa sejak bergabung denga ACT/MRI hampir 9 tahun yang lalu.

Meski sifat gotong royong masyarakat Indonesia itu sudah ter ‘degradasi’ dengan kepentingan individu sehigga kepedulian sudah menipis atau bahkan tidak ada/luntur. Why? Suatu saat istri saya (juga relawati) bertamu di rumah temannya & ditanya:”Mana Bapaknya? Dijawab:”Lagi fogging, bakti sosial pengasapan DBD (Demam Berdarah Dangue”. Apa jawab teman istri saya?:” Saya & suami kok tidak suka kerja seperti itu” (maksudnya kerja sosial). Nah loe… Perlu dberi tanda petik:”kalau toh orang tersebut punya jiwa gotong-royong paling hanya sekedar bersih-bersih got di depan rumahnya saja.

Pesan saya untuk menjadi relawan ‘Luruskan niat’ bahwa jadi relawan itu ‘ibadah’. Jangan harapkan imbalan karena imbalannya bukan dari manusia tapi dari yang menciptakan manusia. Kalau ingin dicintai mereka, cintailah & pedulilah sama mereka. Salam tangguh….!”