Bertemu bidadari ? Seperti mimpi. Apalagi ini ada 7 Bidadari. Wow, gimana rasanya ? Pasti keren dan menjadi pengalaman yang  tak terlupakan seumur hidup. Benar tidak ? . Ternyata hal ini ‘benar’ terjadi lho di ACT /MRI Jawa tengah.

Ingin tahu cerita  selanjutannya ? Yuk kepoin yuuk…

Nah, simak ceritanya saja ya. Jangan berkedip , pastikan artikel ini dibaca hingga abis…

Cerita ini berada disebuah tempat yang indah di lereng gunung Ungaran . Sebuah tempat yang dialiri sebuah sungai berbatu beraliran deras. Aliran yang berhulu di puncak pegunungan Ungaran ini membentuk sebuah pahatan pahatan alam yang Indah. Berundak undak , lalu air melompat dari atas , bergerak mengikuti gravitasi bumi. Terciptalah ‘Curug’.

Sementara disekelilingnya, pohon pohon berjajar rapi seperti tentara berbaris. Berdiri gagah di tebing tebing besar yang nampak hijau. Cuitan burung liar menggema seperti orkestra alam yang indah ditelinga. Sementara gemericik air tak pernah berhenti laksana ‘irama’ yang begitu menenangkan.

Sebuah Jembatan kayu melintang diatas sungai. Lebarnya hanya 60 cm namun panjangnya melampaui 8 meter. Terjalin rapi dari puluhan bilah bambu . Diseberang sungai berdiri enam tenda hijau diatas tanah berumput hijau . Berjajar jajar . Tak hanya tenda, ada ratusan anak anak muda yang sedang sibuk merapikan barang barang bawaan.

Canda tawa bersahabat mengiringi  kegiatan merapikan tenda yang selama dua hari akan menjadi tempat untuk bernaung. Anak anak muda ini datang dari berbagai tempat di Jawa Tengah. Ada mahasiswa, ada pelajar, ada pekerja, ada guru, ada karyawan, ada bidan, ada penggerak masyarakat, mereka semua datang dari berbagai latar belakang bersatu padu.

Berpakaian seragan kaos hitam dengan tulisan mencolok : Volunteer Camp Batch 12 . Pagi itu, Sabtu 11 November merupakan acara yang menjadi  gerbang untuk mengenal lebih dekat dengan dunia relawan  segera dimulai.

Pak Sri Suroto, bertindak sebagai inspektur upacara pembukaan Volunteer Camp Batch 12 Jawa Tengah

Pagi yang cerah, sinar matahari mencorong dengan lembut.  Barisan disiapkan , sebuah upacara pembukaan menjadi ‘ritual’ wajib. Bertindak sebagai inspektur upacara bapak Sri Suroto sebagai kepala cabang ACT Jawa Tengah. Upacara pembukaan juga dihadiri, perangkat desa hingga kecamatan. Pihak TNI, Kepolisian hingga Satpol PP.

Membangun Jiwa Kerelawan

Kehadiran para relawan yang punya motivasi besar. Menjadi manusia yang punya kebermanfaatan luas. Tak melulu untuk dirinya sendiri. Memupuk jiwa kerelawanan yang tak mau berpangku tangan ketika musibah dan bencana datang. Tak berdiam diri ketika masalah sosial ada disekitar.

Tangannya ringan, kakinya ringan, hatinya sensitif, jiwanya penolong. Baginya, membantu orang lain adalah sebuah kebahagian yang tak terbeli. Itulah ciri ciri jiwa relawan sejati.

Relawan adalah gaya hidup, sebuah life style. Ketika Kids zaman now , diera digital. Tersambung dengan jaringan internet. Smartphone jadi keseharian. Lalu, lahirlah manusia manusia egois. Yang hanya tahu kehidupannya sendiri, kesenangannya sendiri, hatinya ‘keras’ , tangannya ‘kaku’, jiwanya ‘kosong’.

Pak Iqbal Setyarso memberikan inspirasi tentang Komunikasi Kemanusian (dok : MRI)

Aksi Cepat Tanggap (ACT) lahir dari kepedulian ketika Tsunami Aceh meluluhlantakkan sisi barat serambi Mekkah pada tahun 2004.  Lalu setahun kemudian ACT membidani lahirnya Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) yang menjadi organisasi massa relawan. Sebuah rumah besar para relawan.

Volunteer Camp merupakan agenda wajib MRI, di volunteer camp , relawan relawan dibangun pemahamannya, dilatih ketrampilannya, diajarkan dalam kebersamaan. Saling bantu dan saling menolong.

Salah satu capaian volunteer camp adalah membentuk pribadi pribadi yang memiliki kepekaan terhadap masalah sosial disekitar. Tak hanya berfokus pada masalah yang jauh diluar namun abai terhadap masalah yang terjadi disekitarnya. Seorang reawan sejati , punya kepekaan tinggi yang mewujud menjadi aksi nyata walau  dengan gagasan sederhana.

Mas Awal Purnama memberikan materi tenatang Kelembagaan ACT/MRI (dok: MRI)

Aksi nyata, aksi yang menjadikan relawan punya nilai lebih. Bukan untuk berbangga bangga, bukan untuk mencari popularitas. Namun sebuah aksi dengan jiwa ikhlas, tanpa pamrih. Pribadi yang rela mengorbankan tenaga, waktu bahkan materi untuk membantu sesamanya .

Hari Terkhir bersama  Relawan

Selama dua hari dari tanggal 11 hingga 12 November, ada 240 relawan yang hadir di Volunteer camp (VC) batch 12 Jawa Tengah. Sebuah jumlah yang fenomenal, karena biasanya VC dihadiri tak lebih dari 120 orang. Tak hanya dari sisi jumlah yang besar, VC Jawa tengah menampilkan banyak ketrampilan, selain materi Bela negara yang disampaikan Kapten Bahrudin, kerelawanan dan kelembagaan ACT/MRI yang diberikan Mas Awal Purnama dari GM Branch Management  ACT dan satu sesi yang sangat inspiratif dari pak Iqbal Setyarso, Vice President Komunikasi ACT. Sebuah kesempatan langka bisa mendapat ilmu dari seorang maestro komunkasi.

Belajar memadamkan api dengan alat sederhana yang ada disekitar kita (dok:MRI)

Peserta VC juga diajari ketrampilan memadamkan api dengan cara sederhana, bagaimana memadamkan api ketika gas bocor, lalu memadamkan api dengan menggunakan bahan sederhana yang ada disekitar seperti karung, handuk, seprei dan bahan kain lainnya.

Termasuk diajari menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang ada dikantor atau instansi, Materi Fire Rescue diajarkan secara praktek. Artinya setiap peserta  diminta mencoba sendiri.

Selain Fire Rescue, juga ada pelatihan Pertolongan pada Gawat Darurat (PPGD) yang materinya diberikan instruktur dari PMI Kota Semarang. PPGD merupakan ketrampilan dasar bagi seorang relawan rescue. Peserta VC juga mendapatkan teori dan praktek Vertical Rescue dari instruktur yang berpengalaman. Ketrampilan yang menjadikan relawan rescue memiliki kemampuan mumpuni.

Belajar tentang Vertikal Rescue, cikal bakal relawan rescue yang tangguh (dok : MRI)

VC Jateng ternyata juga memberikan pengetahuan tentang teknik mendongeng, ketrampilan diberikan langsung oleh seorang pakar mendongeng Jawa Tengah, Ari Blangkon. Ketrampilan ini diberikan secara massal, dengan peserta lebuh dari 200 orang. Tak cuma teori, semua peserta diajak untuk ikut aktif belajar.

Selama dua hari satu malam, peserta VC Jateng mendapatkan banyak ilmu, ketrampilan , teman baru, pengalaman dan bertemu dengan tujuh bidadari.  Pada hari kedua, peserta diajak melakukan aksi bersama warga. Humanity Action di sebuah dusun yang berada tak jauh dari lokasi.

Hari kedua menjadi hari terakhir, semua kegiatan sudah dilakukan dan dilaksanakan. Banyak kisah, banyak pengalaman yang didapat. Kini saatnya Relawan meninggalkan tujuh bidadari. Jejak jejak sudah ditorehkan di lereng pegunungan Ungaran.

Sebuah cerita dan pengalaman yang akan melekat erat, menjadi kenangan indah bahwa di Curug Tujuh Bidadari, desa Kaseneng, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Volunteer Camp Batch 12 Jawa Tengah dinyatakan selesai. Namun semangat jiwa kerelawanan akan terus tumbuh dan menjadi besar seiring aksi aksi yang dilakukan relawan.

Tujuh Bidadari itupun pergi dengan senyum terindahnya…selamat bertemu di Volunteer Camp Jawa Tengah tahun depan.