Kembali kita disadarkan melihat sebuah kekuatan yang lahir bukan dari kekuasaan, bukan pula dari kekayaan tapi dari ketakwaan. Ketakwaan yang terus dipupuk dalam dada hingga lahir keimanan yang memberi kekuatan. kekuatan ruhiyah yang mampu mengangkat jiwa untuk tetap mengangkasa tinggi bersama harapan yang tak pudar oleh apapun yang menguji kesabaran. Kita akan belajar kesabaran yang luar biasa dari seorang Malahayati, sebuah nama yang cocok disandang wanita berumur 40 tahun . seperti nama pahlawan wanita Aceh yang melegenda yang telah mengukir sejarah.

Malahayati yang menjadi Pahlawan bagi Ahmad Hidayatullah. seorang remaja berusia 18 tahun yang terbaring lemah tak berdaya hanya sebuah kedipan mata yang memberi isyarat bahwa masih ada harapan meski hanya berisi tatapan kosong. Sesekali mengalir air mata. Entah karena ia begitu merindu untuk dapat berkata-kata, berucap terima kasih kepada ibunda yang terus menjaganya sepanjang hari. Atau karena ia begitu lelah untuk hanya melihat atap rumbia yang berlapis-lapis sebagai peneduh diruang kamarnya yang sepi.

Hidayatullah mengalami musibah kecelakaan pada 16 Mei 2017 , selama tiga bulan Hidayatullah mengalami koma . Akibat kecelakaan yang dialaminya Hidayatullah harus menjalani beberapa kali operasi diantaranya pengangkatan tempurung kepala dan operasi plastik di beberapa bagian tubuhnya.

Akibat cidera yang di alaminya selain ia mengalami koma yang cukup panjang , Hidatullah juga menderita kekurangan gizi akut. Tubuhnya yang dulu kekar layaknya seorang pemuda sebayanya ,kini Hidayatullah terlihat kurus tak berdaya penderitaannya pun bertambah alkibat paha sebelah kanan patah.

Sebagai orang tua tunggal, Malahayati tetap berikhtiar untuk kesembuhan sang putra. Sejak kecelakaan yang dialami sang anak ia terpaksa berhenti bekerja sebagai buruh cuci dan gosok dirumah tetangganya demi merawat sang anak yang tidak bisa ditinggal sendirian dirumah.

Hidayatullah anak pertama dari 3 bersaudara. Sebagai anak laki-laki satu-satunya selama ini ia menjadi tulang punggung keluarga. Mencari nafkah sehari-hari dan membiayai dua orang adik perempuannya yang kini berada di pesantren. Dengan berjualan di kios di dekat rumahnya. Namun kini kios tersebut pun harus tutup karena sang tuan terbaring lemah ditempat tidur.

Tak cukup sampai disini perjuangan sang Bunda, Malahayati. Selain merawat sang anak yang sedang sakit ia juga masih memiliki seorang Ibu yang sudah berusia 85 tahun . Diusianya yang senja membuatnya sulit bergerak. Jangankan untuk dapat berjalan, berdiri saja ia sudah tidak mampu. Malahayati lah yang harus mengurus segala keperluannya.

Dengan rentetan kepedihan yang di alami, namun Malahayati tetap tegar dan berkata “saya harus semangat, jika saya tidak semangat siapa yang akan merawat mereka?” sembari tersenyum Malahayati menjawab pertanyaan kami dengan ketegaran yang terpancar dari lubuk hatinya yang mulia.

Tim Aksi ACT cabang Aceh tak berpangku tangan melihat penderitaan keluarga Malahayati yang tinggal di desa Lamteubee Mon Ara Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar. Melalui program Mobile Social Respon (MSR) tim ACT hadir untuk memberikan bantuan dana untuk meringankan kebutuhan sehari hari dan penunjang pengobatan Ahmad Hidayatullah.

Selain ACT juga ikut relawan MRI hadir dan menjenguk rumah Malahayati. Mahalayati tetaplah manusia biasa yang perlu mendapat bantuan. Ketegaran dan kesabaran Malahayati menjadi contoh betapa besar jasa seorang ibu kepada anak tercintanya. Betapa cintanya, seorang ibu , sekaligus betapa berbaktinya seorang anak kepada ibunya yang telah renta.

[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]

Dari Malahayati, kita mendapat banyak pelajaran luhur. Tentang kesabaran, pengorbanan, kesetiaan, kepedulian, ketulusan. Lalu, kita harusnya bertanya pada diri kita masing masing, “NikmatKu mana lagi yang engkau dustakan ? “

Penulis : Lisdayanti⁠⁠⁠⁠ dengan penyuntingan seperlunya oleh Novaly Rushan