Oleh : Iqbal Setyarso

Ihwal bagaimana manusia diatur dan mengatur diri dan orang lain, menjadi catatan panjang yang mewarnai sejarah bangsa. Sebagian catatan itu, menorehkan guratan yang tak terelakkan dalam sejarah. Di masa lalu, “orang kekinian” menangkap kesan kuat: pertama, interaksi para pemimpin di masa lalu sangat dewasa. Terasa ada jejak monumental kedewasaan itu. Kedua, iklim penjajahan menunjukkan pola komunikasi dan manajemen yang strategis tanpa ‘membentur’ kekuasaan ketika itu. Ketiga, penjajah sejak awal menyadari keseriusan dimensi spiritual bagi masyarakat sehingga sedemikian rupa hal itu dijaga agar penduduk muslim (Hindia Belanda) tidak merasa dihambat hak-hak peribadatannya. Dalam tulisan ini, saya paparkan pelajaran itu, untuk ditarik pada konteks kekinian. Ini tentang organisasi massa (ormas) yang bertekad menjadi ormas terbaik negeri ini.

Ketua Dewan Pembina MRI, Ahyudin sedang memberikan ‘Kata kata Inspirasi’ kepada peserta Rakerwil Sumatera Utara (dok: MRI) 

Fase Baru

Kalau menyimak kilasan sejarah organisasi massa pra kemerdekaan, yang menonjol sejarah tentang sepak terjang memperjuangkan ideologi dan agama. Warna organisasi massa di zaman pra-kemerdekaan, menjadi ciri terkuat untuk apa ormas berjuang.

Di masa sekarang, hadirnya Masyarakat Relawan Indonesia/MRI, seolah menandai bentuk dan arah perjuangan yang berbeda dibanding era sebelumnya. MRI mendedikasikan diri dengan tema perjuangan baru: kemanusiaan.

Ada tuntutan perjuangan yang berbeda. Era pra kemerdekaan, agama menjadi sesuatu yang esensial (sehingga harus diperjuangkan). Ketika MRI mengusung tema kemanusiaan, isu itu tidak saja perlu diperjuangkan, tetapi menjadi mengemuka dan menjadi hajat orang banyak.

Inilah fase baru perjuangan, yang menautkan MRI dengan semua orang, apa pun urusannya, apapun kebangsaannya. Bagi MRI, ia memilih domain baru: dari “kebangsaan” menjadi “kemanusiaan”.

MRI dengan demikian, tumbuh menantang zaman, membentang harapan. Yang masih sama dengan organisasi pendahulunya, MRI tetap mengusung prinsip tanpa pamrih, memilih perjuangannya sebagai “gerakan”, tidak menonjolkan figur. MRI menegaskan, bertekad tetap menebar kebermanfaatan bagi sesama.

Presiden MRI, Syuhelmaidi Syukur menyampaikan Visi Misi Kelembagaan MRI 

Kebermanfaat Yang Diasah

Sadar ranah kemanusiaan tidak serampangan, insan MRI mengasah dirinya agar terjun di kancah kemanusiaan memiliki bekal memadai. Menjadi insan yang berguna. Dengan kemampuan “menolong” bukan merepotkan, azas “memberi” bukan “meminta”, solusi kehidupan bukan beban.

Untuk itu, MRI melalui langkah sistemik dan terstruktur, secara periodik meningkatkan kapasitas anggotanya. Serangkaian Diksar (Pendidikan Dasar); Dikmen (Pendidikan Menengah); dan Diksus (Pendidikan Khusus) diselenggarakan.

Juga diadakan penguatan bidang-bidang tertentu. Semua ditempuh agar tiap orang didalamnya makin piawai menghadirkan kebermanfaatan. Tanggal 16 dan 17 November lalu, kami menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Medan (meliputi 20 Koordinator Daerah/setingkat kabupaten) dan Aceh (meliputi 23 Koordinator Daerah).

Sekjen MRI , Ibnu Khajar memberikan materi Kontribusi Total di ranah kemanusian (dok : MRI)

Konsolidasi MRI di Medan dan Banda Aceh ini membawa tekad, MRI menjadi ormas terbaik di negeri ini. Saatnya kebaikan – melalui kemanusiaan, diekspresikan dengan ikhtiar terpadu, terstruktur, terencana dan diemban pula mandatnya oleh insan-insan terlatih, dan organisasinya dipimpin orang-orang visioner.

Kesungguhan menata lembaga, melatih diri di setiap insan MRI, mendorong anggota MRI secara padu melayakkan dirinya sebagai Ormas terbaik di negeri ini. Tekad diiringi ikhtiar, secara simultan ditunjukkan dalam karya nyata. Terbaik dimaknai jangkauan”: yang patut ditolong kian luas; yang dilakukan makin *banyak dan beragam: apapun yang bisa membuat manusia Indonesia bahagia, MRI menginisiasinya; dan MRI secara konkret signifikan kontributif bagi bangsa ini.

*Penulis adalah : Ketua Bidang Komunikasi Publik Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)