Kiprah kerja relawan kemanusian sungguh penuh arti, penting dan tak bisa dilakukan oleh semua orang. Karena tak semua orang  siap menjadi relawan kemanusian. Butuh kerelaaan, butuh ketrampilan , butuh keberanian, dan yang pasti butuh kemauan.

Jangan dibayangkan susahnya jadi relawan , tapi nikmati keseruan yang akan hadir ketika bertemu para warga masyarakat terdampak. Senyum ranum para warga terdampak seperti air dikala terik. Ucapan terima kasih yang keluar dari mulut  ibu ibu, anak anak di tenda pengungsian seperti dopping  bagi tenaga relawan yang  terkuras di lapangan.

 Pilihan menjadi relawan adalah ‘pilihan mulia’. Datang dari tempat yang jauh, tak kenal dengan yang dibantu, tak ada hubungan kekerabatan, apalagi hubungan saudara sedarah. Tak pandang siapa yang harus dibantu. Tak ada batas , tak ada sekat , semuanya menjadi lahan untuk menyemai benih kebaikan bagi relawan.

Bencana tak selalu menuai duka, ada semangat bangkit. Ada semangat memperbaiki diri. Ada banyak ‘cerita motivasi’ lahir dari ranah bencana. Cerita tentang kepasrahan yang  berbuah menjadi  kekuatan. Kabut kabut kekelaman saat terjadi bencana harus dihapus, perlahan pasti kabut itu harus dikikis. Inilah ranah bantuan psikososial bagi warga terdampak. Relawan hadir membawa nuansa kecerahan, semangatnya berbagi bahagia. Tak hanya melulu bantuan logistik kebutuhan harian, warga terdampak butuh tawa canda, sapaan , hingga didengarkan keluhannya.

Darimana datangnya energi relawan untuk berbagi ? Jawabannya “hati”. Dititik inilah relawan harus menggali sedalam dalamnya makna “melayani dengan hati”. Kerja relawan , kerja mulia, kerja disudut kesunyian, di lembah keterbatasan, di hinggapi riak riak masalah. Tak selamanya mulus, kadang terjal menghadang.

Menggunakan “hati” dalam bekerja sebagai relawan dengan dosis tepat. Tak berlebihan sehingga tak ‘melankolis’ namun tak kekurangan sehingga kurang ’empati’.  Melayani dengan “hati” sebagai bagian relawan membersamai, memaknai nilai kemanusian secara hakiki. Lelah yang dirasakan akan menjadi indah, karena yang terasa ringan dalam bekerja.Hambatan yang dihadapi pun akan menjadi tantangan yang mudah diurai  .

Dunia relawan adalah dunia nyata yang sesungguhnya, didalamnya ada “rasa” dan ada “asa” . Karena sejatinya relawan adalah ‘manusia biasa’ yang telah “terpilih” dan “memilih” jalan yang tepat.