Matararam (30/8)- Tak ada waktu  bersantai untuk relawan MRI ACT ketika  membantu korban gempa lombok. Tak juga ada kata ‘Lelah’ karena harus beraktifitas seharian . Semangat itu tak pernah mengendur. Setiap ada panggilan tugas, relawan langsung berangkat.

Begitulah keseharian relawan MRI ACT yang bertugas di posko posko kemanusiaan. Menjadi garda terdepan untuk melayani para korban gempa. Titik titik pengungsian yang tersebar disambangi satu satu. Ada yang harus berjalan kaki, karena kendaraan tak lagi mampu menembus lokasi distribusi.

Relawan memikul bantuan kemanusian untuk korban gempa (dok : MRI )

Sementara barang bantuan diletakkan dipundak. Berat memang, tapi karena panggilan hati , beban itu terasa ringan. Walau peluh membasahi baju. Tak cuma bantuan bahan makanan. Relawan MRI ACT juga ikut memberikan kegembiraan kepada anak anak korban gempa. Mengajak bermain, bernyanyi hingga memberikan mainan atau makanan kecil (jajanan sehat).

Gempa lombok memang meninggalkan duka yang dalam, korban meninggal mencapai 564 orang, 77.976 rumah rusak, lebih dari 390.000 orang mengungsi . Total kerugian diperkirakan mencapai angka 7,7 triliun.  Seperti itulah medan yang dihadapi relawan.

Relawan Medis mengadakan layanan kesehatan di desa Tanjung Kec Tanjung, Lombok utara (dok : MRI )

Relawan membantu dari Dapur hingga Sumur

Kebutuhan korban gempa lombok sangatlah kompleks. Sejak gempa besar pertama pada Minggu (29/7) berkekuatan 6,4 SR yang merusak kabupaten lombok timur, lalu gempa kedua yang lebih besar terjadi seminggu kemudian , Ahad (5/8) dengan kekuatan 7 SR.

Gempa kedua ini menghantam lombok utara , lombok barat, lombok tengah sebagain kota Mataram . Kerusakan pada gempa kedua ini lebih masif . Gempa susulan lebih dari 500 kali dengan skala berbeda beda. Gempa susulan yang cukup besar dirasakan pada Kamis (9/8) dan Ahad (19/8).

Kerusakan juga terjadi di pulau Sumbawa, terutama di kabupaten Sumbawa Barat dan kabupaten Sumbawa. Walau tak separah Lombok, jumlah rumah yang rusak mencapai 5.200 unit dengan korban jiwa sebanyak 7 orang.

Saat ini kebutuhan korban gempa juga beragam. Tak hanya terpal , makanan atau air minum. Korban gempa juga butuh pemulihan psiko sosial . Kehidupan didalam tenda secara terbuka dan komunal membuat hal privasi terabaikan.

Kondisi lapangan pengungsian yang berdebu juga rentan membuat keluhan kesehatan seperti ISPA, diare atau penyakit kulit seperti gatal gatal. Relawan MRI ACT turun dengan full team, selain mendistribusikan paket bantuan kemanusian. Relawan medis juga turun untuk memberikan pelayanan kesehatan. Relawan yang terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi, bidan hingga farmasi. Mereka berjibaku untuk memberikan layanan terbaik.

Senyum bahagia anak anak Lombok ketika Relawan mengajak bermain (dok : MRI )

Setiap posko willayah, dimaksimalkan untuk diadakan pelayanan kesehatan, ambulan pre hospital yang dibawa langsung dari Jakarta juga turut berkeliling memberikan bantuan kesehatan. Fasilitas yang dimiliki ACT semuanya digelar untuk korban lombok.

Satu unit Foodtruk yang mampu memasak 1000 porsi juga diturunkan di lombok. Truk besar yang disulap menjadi dapur bergerak ini menjadi salah satu pemandangan unik. Ditengah lapangan pengungsian , sebuah foodtruk terparkir. Sementara kru sibuk memasak , puluhan ibu ibu korban gempa ikut membantu proses memasak. Hal ini dilakukan secara sukarela.

Relawan MRI ACT juga memiiki truk pembawa air bersih. Truk tanki ini bekeliling ke titik pengungsian yang membutuhkan pasokan air bersih.

Relawan MRI ACT terus membersamai para korban gempa, mengalirkan bahagia. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan dapur umum para pengungsi, hingga menyalurkan air bersih di penampungan.

Begitulah kerja relawan. Tak kenal rasa lelah, tak boleh ada kata mengeluh. Terus semangat para relawan. Baktimu adalah ladang amal terbaik. Insya Allah….