“ Kang Mumu (sapaan akrab Mubarok-red) , orangnya ridho, semua hal dikerjakan dengan ikhlas, orangnya ga pernah mengeluh. Orangnya ga pilih pilih tugas yang diberikan. Saya bener bener kehilangan “ Urai  Aang  dengan suara gemetar selama perjalanan pulang  meninggalkan rumah Kang  Mubarok di Kampung Cengal , Leuwiliang, Bogor.

“Mubarok adalah pribadi yang supel mudah bergaul, ringan tangan membantu sesama, empati yang tinggi, Tidak pilih pilih dalam hal tugas, apa saja tugas yang diberikan kepadanya pernah di jalaninya, dari mulai rescue, relief, bongkar muat gudang,  maintenance rescue tools, termasuk maintenance perahu, driver yang Handal . Dia termasuk sosok Relawan yang serba bisa dan penurut, ACT terutama Tim  DERM sungguh merasa kehilangan. “ tulis  Rifai, komandan Disaster Emergensi Relief (DER) dalam sebuah chat WA .

Kamis, (15/2) kabar duka itu berhembus. Usai sholat ashar hampir seluruh grup chat relawan MRI dan juga ACT penuh dengan do’a dan belasungkawa atas kepergian Kang Mubarok. Relawan MRI/ACT  yang telah bergabung sejak 2009 ini menghembuskan nafas terakhir usai melawan kanker leukemia yang baru disadarinya  dua bulan belakangan ini . Segala upaya penyembuhan telah dilakukan, terakhir kang Mubarok dirawat di RSCM.

Kiprahnya untuk kemanusian terbilang panjang ,  tugas kemanusian terakhirnya yang diembannya, relawan Foodtruk  untuk bencana banjir di Pacitan dan Jogjakarta.

Sebagai relawan apa yang dilakukan Mubarok  sungguh luar biasa, hampir seluruh penanganan bencana yang dilakukan ACT, Kang Mubarok selalu hadir. Gempa Sumatera Barat tahun 2009, Erupsi Gunung Merapi (2010), Gempa Takengon (2013), Banjir Jakarta (2014) , Longsor Banjarnegara (2014) , dan selama bulan Ramadhan 2017, Kang Mubarok ditempatkan di Foodtruck. Sebulan  penuh Kang Mubarok terus berkeliling Jabotabek, Bandung , Merak hingga Surabaya.

Ucapan belasungkawa dari sahabat

“Kang Mumu, relawan serba bisa, selama diksar (pendidikan dasar) Disaster Manajemen. Ia yang paling tinggi mendapat nilai disemua kemampuan. “ Tutur Daryadi mengenang , salah orang rekan satu angkatan ketika pendidikan relawan kebencanaan di Lembang  Bandung.

Soal ketrampilan penanganan kebencanaan, Kang Mubarok adalah yang terbaik. Mulai dari water rescue, vertical rescue, fire rescue, materi survival dilahapnya dengan nilai paling tinggi. Soal kebugaran dan daya tahan, tak ada yang meragukan.  Pria asal kampung Cengal ini punya keistimewaan.

Kiprahnya sebagai relawan patut menjadi contoh, Kang Mubarok tinggal di kampung Cengal yang jaraknya dari kantor ACT/MRI Ciputat puluhan kilometer. Butuh waktu sekitar 4-5  jam perjalanan dan ongkos yang tak sedikit untuk bisa hadir di basecamp relawan di Ciputat. Sebuah perjalanan panjang yang hanya mampu dilalui oleh orang yang punya semangat baja dan keikhlasan tinggi.

Salah satu hal yang patut diapresiasi adalah keinginan kang Mubarok membangun desanya, dengan uang ia kumpulkan ia gunakan untuk memberdayakan pemuda desa. Kebun yang tak sebarapa luas ia berikan untuk para anak muda mengelolanya. Uang hasil kebunnya , digunakan untuk membiayai kegiatan kegiatan kepemudaan. Sebuah ikhtiar mulia yang tak boleh berhenti.

Kang Mubarok telah kembali kepada Sang Pemilik Alam, Allah SWT. Karya kemanusian yang ia torehkan semoga menjadi amal kebaikan. Menjadi sebab pintu surga terbuka. Dan untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan.

Sebuah pelajaran berharga telah diberikan Kang Mubarok. Tentang keiklhasan, tentang kerja keras, tentang kerelawanan yang telah menjadi bagian hidupnya selama 9 tahun. Ada banyak orang yang pernah ditolongnya, ada banyak korban yang pernah diselamatkannya. Sungguh hanya Allah yang mampu membalasnya…

Selamat jalan kawan, karyamu tak pernah terlupakan…