Bila Idul fitri yang terbayang adalah suasana yang meriah, gembira, penuh makanan lezat, minuman manis. Lalu, biasanya hari libur Idul Fitri juga diisi dengan jalan jalan ke tempat wisata atau pusat belanja modern seperti mall. Bercengkrama dengan sanak saudara atau teman. 

Hal berbeda dilakukan relawan MRI ACT Sulawesi Selatan, liburan Idul Fitri masih disibukkan dengan kegiatan berbagi. Tempat yang dipilih juga bukan tempat yang biasa, sudahlah perjalannya jauh , berjam jam lamanya, belum lagi jalan yang harus dilalui tak semuanya mulus. Kadang berlubang, retak hingga jalanan tanah. Dan sebagian dilalui dengan -berjalan kaki-

Seperti apa kisah relawan MRI Sulawesi Selatan ‘jalan jalan’ untuk berbagi, ikuti kisah yang khusus ditulis ketua MRI Sulawesi Selatan, Bang Miswar. Tulisan ini sangat menginspirasi . Yuk disimak ya …

Berfoto bersama sesaat tiba dilokasi implementasi , perjalanan panjang tak menyurutkan semangat kami (sumber : MRI Sulsel)

Liburan Idul Fitri penuh dengan kemenangan, kami mencoba berbagi di pelosok Sulawesi, menyapa saudara seaqidah yang baru pertama kali merayakan hari besar Islam. Silaturahim penuh dengan makna, tantangan dan cerita nan indah di bulan yang fitri, ada keseruan, kebahagiaan, senyuman, sedih dan tangisan penuh dengan makna tersirat dari para relawan dan saudara (muallaf) yang dikunjungi.

Cerita kami bermula dari makassar bersama para relawan dari berbagai daerah kab/kota di Sulawesi Selatan menyusuri Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare sampai ke kota Pinrang, jarak tempuh seharusnya 4 jam perjalanan tapi harus melalui 10 jam dari pukul 5 sore harus sampai jam 3 subuh karena  mulai dihiasi rintangan serta tantangan, diawali ban motor yang bocor sampai motor harus naik mobil pick up, hal tersebut tak menyurutkan semangat para relawan bahkan hanya memanaskan semangat perjuangan yang harus menyampaikan amanah terbaik dari ummat untuk ummat.

Di pagi hari yang cerah mulai membereskan diri untuk kembali melanjutkan perjalanan menyapa saudara seaqidah di pelosok pinrang dusun Batu Sura desa Mesakada yang mayoritas muslim dan dihuni para muallaf yang hidup ditengah keterbatasan ekonomi, pendidikan dan masyarakat non muslim akan tetapi kaya akan potensi alam yang begitu subur. Perjalanan kami mulai dari pukul 10 pagi dari kota Pinrang sampai di desa Mesakada pukul 2 siang karena kondisi jalan retak serta berlubang mengharuskan mobil harus parkir kemudian dilanjutkan perjalanan sekitar 2 jam menggunakan kendaraan roda dua bahkan ada yang harus jalan kaki, setiba di perkampungan batu sura lelah hilang begitu saja saat disambut hangat oleh masyarakat ramah dan mengukir senyuman tulus dari jauh, sampai kami diharuskan menikmati hasil jerih payahnya dari mengelola alam dengan suguhan kopi dan nasi jagung khas Batu Sura.

Walau harus berjalan kaki, jalan terjal berbatu tak jadi penghadang relawan MRI ACT Sulsel (sumber : MRI Sulsel)

Menuju Tana Toraja, Menyapa Senyum Warga Sangbua

Haru bahagia hadir dibatin ini bisa silaturahim dengan saudara se-aqidah, kokoh akan iman dan takwa. Kami para relawan dan masyarakat mulai saling berbagi cerita sampai lupa akan waktu yang harus memisahkan untuk melanjutkan perjalanan ke toraja kembali menyapa saudara pelosok disana.

Setelah melaksanakan shalat magrib dengan berat hati harus melangkahkan kaki dimalam hari menyusuri kembali jalan yang telah kami tempuh dengan hiasan bulan dan bintang ditengah pegunungan desa Mesakada. Kembalilah kami ke kota Pinrang memberikan haknya raga, merehatkan badan sejenak, mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya ke tanah toraja.

Setelah raga mulai kembali stabil dipagi gerimis,  kami membersihkan diri untuk  melanjutkan perjalanan menyapa saudara se-aqidah di wilayah yang mayoritas saudara non muslim penuh dengan adat serta budaya. Roda ban kendaraan kami mulai berputar di pukul 9 pagi dari kota Pinrang menyusuri Kabupaten  Enrekang sampai ke Toraja pukul 8 malam. Perjalanan kami tergambarkan seperti roda yang terkadang di atas dan di bawah, terkadang melalui jalan mulus, kasar, retak hingga terkadang harus cari jalan pintas, kami hanya meyakini bahwa ini adalah bagian dari cerita yang penuh dengan ujian, cobaan, rintangan bahkan tantangan untuk meraih ridho Ilahi, tidak ada buah yang manis sebelum pahit atau asem, tidak ada kebahagiaan sebelum penderitaan, pepatah sederhana ini menjadi pemantik semngat yang terus diyakini sehingga ikhtiar kami terus optimal dan maksimal.

Relawan sejati tak pernah mundur walau harus menempuh perjalanan sulit (sumber : MRI Sulsel)

Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam dan kami disambut oleh pak dusun sekaligus pak imam masjid kampung muallaf dusun Sangbua, ada senyum mulai terukir dari sahabat relawan mengira telah tiba maka ditunjukkanlah kami cahaya lampu perkampungan diatas gunung yang diatasnya sisa cahaya bulan, ternyata kami hanya dijemput untuk melanjutkan perjalanan dengan medan lebih berat di malam hari, kami berusaha menikmati langkah demi langkah untuk meyakinkan diri bahwa kami masih mampu dan ada saudara yang menunggu kehadiran saudaranya. Kendaraan harus ditanggalkan dan kembali melanjutkan dengan kaki yang haus jalan kebaikan, bahu membahu membawa diri menyusuri batu-batuan, tanjakan, turunan yang tegak lurus kearah langit.

Langkah demi langkah yang tak tau pasti kapan tiba, yakinlah usaha tak akan pernah menghianati hasil, maka tibalah kami dimasjid yang masih dalam tahap pembangunan yang penuh dengan masyarakat dari siang menunggu kehadiran kami, ada rasa haru mengalir dalam raga ini melihat sambutan mereka yang ramah, hangat mengalahkan dinginnya malam yang menembus sampai tulang.

Bendera MRI tetap dikibarkan, sebuah semangat yang terus menyala (sumber : MRI Sulsel)

Makan Sop Kambing Paling Enak Sedunia

Penyambutan diawali dengan kopi panas dan kue khas toraja, disertai perkenalan dan candaan yang membuat kami lebih akrab, kemudian dihidangkan makan malam yang menurut kami luar biasa yaitu sop kambing dari hasil gotong royong masyarakat, terasa begitu nikmat karena dimasak dari sebuah ketulusan dan senyuman saudara seaqidah.

“Tak ada proses yang mengkhianati hasil “

Kami terus berupaya memberikan yang terbaik dengan paket sembako dan alat shalat, pelayanan kesehatan serta belajar bersama anak-anak, waktu yang tak terasa kembali menunjukkan pukul 12 tengah malam menandakan kami harus melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan di lolai (negeri diatas awan), kami pun mulai pamit satu persatu dan dihadiahi hasil jerihpayah masyarakat seperti kopi, kentang bahkan kambing yang sengaja mereka siapkan untuk menyambut kehadiran kami. Sungguh begitu bermakna perjalanan silaturahim ini bisa menyapa saudara seaqidah dipelosok negeri. Kaya akan cerita, inspirasi, semngat, kebahagiaan, senyuman, kesyukuran dan pastinya pengalaman hidup untuk berupaya terus memperbaiki diri.

Luar biasa, mungkin satu kalimat yang cocok disematkan untuk relawan MRI Sulawesi Selatan. Semoga lelah, perih dan peluh yang telah dirasakan selama perjalanan digantikan dengan balasan terbaik. 

Ditulis @Miswar Arifin dengan edit seperlunya dibeberapa bagian tanpa mengubah isi (Admin-RN)