Ciputat (9/10) Event – Suasana ruang meeting lantai 3 Kantor ACT Ciputat nampak ramai. Tak kurang 27 orang menghadiri Orientasi Relawan Batch 1 pada Sabtu, 7 Oktober 2017. Suasana orientasi diisi dengan perkenalan dunia relawan , pemutaran video  aksi relawan ACT di berbagai tempat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, pengenalan  kelembagaan ACT/MRI dalam aktifasi relawan, hingga motivasi dari trainer MRI Pusat, Mr Cipto ‘Coachluck’ Sugiarto.

Orientasi relawan merupakan gerbang pertama untuk mengenal dunia relawan di MRI, acaranya sih terbilang singkat, hanya sekitar dua hingga tiga jam. Kegiatannya indoor. Lebih bersifat pengenalan dan sharing. Orientasi Relawan ini juga dihadiri Syaiful Anam selaku pengurus wilayah MRI Jakarta Raya.

Peserta orienstasi berasal dari  relawan yang mendaftar secara online di web resmi MRI : www.relawan.id/daftar-relawan. Saat ini memang baru diadakan batch pertama, dimana pesertanya dibatasi karena tempat  acara yang hanya bisa menampung 30 orang.  Animo peserta yang tinggi , membuat MRI Pusat membuka Orientasi Relawan  batch kedua yang rencananya akan diadakan pada Sabtu, 21 Oktober 2017.

Peserta Orientasi datang dari berbagai wilayah di Jabotabek. Seperti  Ayu Riadi yang berasal dari Rengasdengklok , Karawang. Wanita yang berprofesi di bidang marketing properti ini harus menyiapkan waktu sejak pagi hari untuk sampai di Ciputat.  Ayu menyatakan kesannya, senang dan menarik. Walau , sejatinya Ayu punya ekspektasi bahwa akan ada kegiatan pelatihan dan peng-klasteran untuk relawan.

Syaiful Anam memberikan penjelasan tentang dunia kerelawanan (dok : MRI Pusat)

Wanita yang senang memasak ini, berharap bisa menyalurkan kesukaannya pada dunia pendidikan terutama pendidikan untuk anak anak. ” Saya menyukai dunia anak anak , seperti pendidikan anak. Saya juga cukup tertarik dengan kesehatan.” Ujarnya dalam wawancara via telpon pada Senin, 9/10.

Orientasi Relawan Sebagai Pola Rekruitmen Relawan

Peminat relawan MRI tergolong tinggi. Setiap bulan ada 400 hingga 500 orang yang mendaftar sebagai relawan di Jabotabek. Kebanyakan mengetahui dari sosial media. Ada bermacam macam latar belakang yang mendaftar. Ada karyawan, guru, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pensiunan.

Dunia relawan memang unik. Saking uniknya, ada relawan yang bersedia dikirim ke wilayah bencana atau daerah konflik dengan spontan. Padahal, untuk menjadi relawan dibutuhkan pelatihan. Dibutuhkan ilmu tentang spesialisasi , seperti relawan kebencanaan yang harus mengetahui tentang rescue. Itupun terbagi bagi dalam sub cluster. seperti water rescue, vertical rescue, fire rescue, dan banyak lagi .

Orientasi relawan menjadi pintu pertama  bagi orang yang ingin melangkah masuk lebih dalam kedunia relawan. Walau hanya berisi pengenalan, pemaparan singkat. Diharapkan terbentuk gambaran yang jelas tentang apa yang disebut relawan, apa tugas relawan dan apa yang didapatkan dari seorang relawan.

suasana Orientasi Relawan (dok : MRI Pusat)

Selain tentu, motivasi menjadi relawan-lah yang akan membentuk seseorang bergerak. Karena begitu salah motivasi maka seseorang akan mudah kecewa. Bahkan bisa memupuk antipati terhadap dunia relawan itu sendiri. Karena dunia relawan memang menuntut kerelaaan, menisbikan pamrih manusia, mengecilkan ego, karena sejatinya seorang relawan bekerja didunia senyap. Tanpa lampu sorot kamera, tanpa puja puji apalagi tepuk sorai.

Dengan mengikuti orientasi relawan, maka diharapkan pengetahuan dan motivasi tentang dunia relawan menjadi terang benderang. Pijakan awal menjadi relawan tidaklah hanya bermodal semangat semata. Namun ilmu dan ketrampilan sangatlah dibutuhkan. Karena sesungguhnya relawanlah yang akan menolong bukan menjadi korban yang harus ditolong.

Tak Melulu Tentang Kebencanaan

Relawan kemanusian ACT/MRI memang sangat lekat dengan dunia bencana. Hal ini memang maklum terjadi, Karena ACT sendiri lahir dari dunia kebencanaan pasca Tsnami besar yang melululantakkan Aceh pada Desember 2004. Relawan ACT/MRI memang selalu terlibat dalam semua kejadian bencana.

Maka wajar , relawan kebencanaan menjadi momok yang sulit dipisahkan. Padahal sejatinya, selain kebencanaan ada masalah besar yang juga harus diselesaikan. Masalah ekonomi, pendidikan, lingkungan, sosial, budaya yang mengagayut bangsa ini harus dicarikan solusinya.

Kantong kantong kemiskinan masih menghiasi sebagian wilayah di Indonesia. Keterbelakangan pendidikan menjadi cerita kelam dibeberapa wilayah terpencil nun jauh diperbatasan, dipulau terluar yang sulit dijangkau. Pergeseran budaya timur yang luhur tergerus budaya barat yang negatif. Itu hanya sebagian dari ratusan masalah yang ada.

Relawan dibutuhkan untuk ikut serta sebagai rantai solusi, Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan bagian bagian masalah. Relawan bisa mengambil peran penting. Mengurai masalah , ikut serta secara aktif. Bisa memilih menjadi relawan pendidikan, relawan kesehatan, relawan pendamping masyarakat, relawan lingkungan, ada banyak ruang yang bisa diambil seorang relawan. Tentu tak melulu soal bencana, walau bencana tetap membutuhkan relawan untuk hadir.

Penulis : Novaly Rushan