Jakarta, relawan.id- Presiden Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Syuhelmaidi Syukur mengimbau masyarakat Sumatera Barat tak perlu panik mendapat kabar Megathrust Mentawai yang dapat menimbulkan gempa berkekuatan 8,9 SR.

“Kita tidak pernah berharap ada bencana, tapi ketika kejadian itu sudah benar-benar terjadi, tinggal mencari tempat yang aman saja,” katanya kepada relawan.id, Senin (11/2/2019).

Lebih lanjut dia mengatakan, masyarakat harus tahu di mana titik dan jalur evakuasi. Sehingga ketika terjadi bencana, semua orang sudah tahu harus menyelamatkan diri kemana.

“Saat menyelamatkan diri tidak usah memikirkan membawa barang apa, selamatkan diri dan keluarga saja. Kalaupun menggunakan kendaraan, yakinkan bahwa kendaraannya dalam kondisi baik. Dan jika terjebak macet di jalan, tinggalkan saja kendaraannya,” jelas Syuhelmaidi.

Untuk itu dia mengajak masyarakat di wilayah yang rentan bencana memiliki tas darurat yang siap dibawa jika sewaktu-waktu diperlukan.

“Di dalam tas itu harus ada pakaian beberapa helai, kotak P3K dan dokumen-dokumen penting. Sehingga ketika terjadi bencana tinggal bawa tas itu saja, tidak perlu cari-cari lagi,” katanya.

Karena saat terjadi gempa besar yang disusul atau berpotensi tsunami misalnya, jarak waktu antara gempa dan terjadinya tsunami tidak lama.

“Paling lama 30 menit, jadi kalau harus cari barang dan dokumen penting dulu tidak akan sempat,” tambahnya.

Kendati demikian, menurutnya untuk Kota Padang sendiri sudah ada jalur-jalur evakuasi dan sudah ada juga titik-titik batas evakuasi.

“Sudah diperhitungkan oleh Pemerintah Daerah di Sumatera Barat, pada titik tertentu jika terjadi tsunami misalnya maksimal air akan sampai 10 kilometer, dan itu sudah jelas arah dan tandanya,” ungkap Syuhelmaidi.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebetulnya informasi soal Megathrust Mentawai bukan barang baru, kajian tentang peta kebencanaan di wilayah Sumatera Barat sudah lama dilakukan.

“ACT sendiri sudah mulai pendekatan dan komunikasi dengan berbagai pihak antara lain pemerintah Kota Padang. Belum lama ini saya diskusi banyak dengan Walikota Padang, salah satu pembicaraannya soal mitigasi bencana,” kata pria yang juga Senior Vice President ACT itu.

Presiden MRI-SVP ACT Syuhelmaidi Syukur bersama Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah

Menurutnya Pemerintah Kota Padang khususnya dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat umumnya sudah baik soal mitigasi bencana. Bangunan-bangunan yang ada di dekat pantai sudah dibangun dengan kualitas tahan gempa, bahkan sudah disediakan shelter-shelter dengan sekolah dan fasilitas umum.

“Bahkan beberapa sekolah dan masjid itu saya lihat disiapkan sebagai shelter kalau seandainya terjadi tsunami, jadi bisa lantai atas untuk tempat penampungan pengungsi,” kata dia.

MRI sendiri sejak tahun 2010 sudah sering mengadakan pelatihan-pelatihan relawan, baik relawan tingkat pelajar maupun relawan mahasiswa dan masyarakat umum di Sumatera Barat.

“Ini merupakan bentuk kesiapan MRI khususnya di Sumatera Barat menghadapi berbagai potensi bencana. Pengurus Wilayah MRI Sumatera Barat belum lama ini juga mengirim relawannya mengikuti Pendidikan Dasar di Medan dan juga di Bengkulu,” ujarnya.

Dalam waktu dekat MRI Wilayah Sumatera Barat juga akan melakukan roadshow ke 19 Kota/Kabupaten untuk mengaktivasi semua relawan yang ada. Targetnya hingga tahun 2020 di setiap desa terbentuk satu regu atau satu tim relawan MRI yang berasal dari daerah itu sendiri.

“Karena kami paham bahwasanya kalau sudah kejadian bencana relawan yang paling siap itu yang ada di tingkat desa, karena kalau  menunggu dari Ibukota itu butuh waktu perjalanan dan macam-macam,” kata Syuhelmaidi.

Bentuknya ada semacam pelatihan kelompok siaga bencana bencana di setiap desa. Untuk Sumatera Barat, MRI-ACT pernah melakukan pogram itu di Bukittinggi bersama salah satu mitra.

“Waktu itu kerja sama dengan pemerintah kota Bukittinggi, jadi memang harus dilakukan terus-menerus pelatihan-pelatihan ini. Alhamdulillah di lapangan, khususnya di Sumatera Barat MRI-ACT sudah punya komunikasi yang cukup bagus dengan BPBD Provinsi, DPRD Kota-Kabupaten dan stakeholder lainnya,” pungkas dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, gempa besar berpotensi kembali terulang di Provinsi Sumatera Barat. Potensi itu merupakan bagian dari siklus 20 tahunan.

Kendati demikian, seperti dikutip dari Tribunnews.com, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta masyarakat tidak takut dan panik.

“Ini potensi ancaman yang harus dihadapi dengan selalu meningkatkan kewaspadaan,” kata Doni dalam rapat mitigasi bencana di Padang, Rabu (6/2/2019).