Sehari setelah gempa, sang istri masih sempat ikut memasak di dapur umum. Padahal, fisiknya belum kuat sejak serangan hipertensi menimpanya. Kelelahan batin melihat rumahnya hancur, warga dusun Gol dan sejumlah keluarganya di desa tetangga bernasib serupa, memicu penyakit lamanya. Ia pun tergolek tak berdaya, hingga ajal pun menjemput.

 

Tinggallah Thoyyibi, kepala Dusun Gol, dengan anak ketiga, anak bungsunya, melepas ikhlas sang istri berpulang kehadiratnya. Anak pertama dan kedua, sudah berkeluarga dan taj lagi serumah dengannya. Kini Thoyyibi hanya berdua dengan anak bungsunya. Rumah hancur, istri tiada, tidurpun kian berkurang waktunya, di brugaq kecil depan bekas rumahnya yang sudah rata dengan tanah.

 

Duka itu tak memudarkan layanannya terhadap warga yang kemalangan. Masa duka seakan tak boleh beredar di lingkungan hidup Thoyyibi. Setiap hari ia mengkomandoi langkah darurat warganya, melayani pejabat dan para pegiat kemanusiaan. Maklum, Gol, dusun yang dipimpinnya, termasuk parah dan wilayah terdepan sebelum menuju desa-desa lain yang terpapar gempa di Lombok Utara.

 

Thoyyibi tak jauh beda dengan warga lainnya, sama-sama perlu waktu menata kehidupannya pascagempa. Tapi waktunya habis tersita melayani administrasi bantuan ini-itu, menerima pejabat berbagai instansi, lokal maupun dari Pusat. Tak banyak yang tahu, ia kehilangan sang istri. Pria Sasak berbadan tegap ini tak memperlihatkan dukanya, selalu berusaha tegar menghadapi semua orang. “Allah Maha Penolong. Moga-moga kami bisa lekas kembali ke kehidupan normal, tidak berlama-lama hidup di brugaq. Kasihan anak-anak,” ujarnya.

 

Ia tetap sigap saat ACT mendistribusikan paket bahan pokok untuk semua kepala keluarga di dusun Gol. “Tapi kapan ya, bantuan recovery itu datang? Kami berterima kasih, bantuan sembakonya. Sudah terlalu lama, warga menempati brugaq-brugaq sempit ini. Bantu ya, mengingatkan bapak-bapak yang di atas,” ungkapnya. InsyaAllah, Pak Thoyyibi. Dukamu, dan duka warga Lombok Utara korban gempa, semoga berbalas keberkahannya. Semoga Ramadhan yang tersisa, menjadi momentum kita yang tak terkena bencana apapun, bersegera membantu mereka yang terabai. (IS)