Jenewa, relawan.id-  Badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR) mengaku khawatir terhadap keselamatan warga yang melarikan diri akibat kekerasan yang meningkat di Negara Bagian Chin dan Rakhine di bagian selatan Myanmar. 

UNHCR mengaku saat ini tidak bisa menilai skala situasi kemanusiaan di wilayah-wilayah yang bergejolak di Chin dan Rakhine, lantaran tidak memiliki akses ke sana dan daerah lain di Myanmar.

UNHCR menyatakan dari laporan yang diterima, situasi keamanan di kedua negara bagian itu sangat mengkhawatirkan. Namun, UNHCR tidak tahu berapa banyak orang yang sudah meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi sejak kekerasan kembali berkobar pada Desember lalu.

Selain itu, di Rakhine, juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan sejumlah Muslim Rohingya kembali melarikan diri ke Bangladesh untuk mencari suaka. Demikian dikutip dari laman VOA, Selasa (12/2/2019).

“Yang kami ketahui dari beberapa laporan, sekitar 200 orang mencari perlindungan dan keselamatan. Ini dilaporkan di daerah yang sangat terpencil di mana kami benar-benar tidak memiliki akses,” ujarnya.

Sudah lebih dari 720 ribu pengungsi Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus 2017 guna menghindari penganiayaan dan kekerasan di Myanmar. Karena krisis pengungsi sebelumnya di Myanmar, Bangladesh saat ini menjadi tempat tinggal bagi hampir satu juta muslim Rohingya.

UNHCR memuji kemurahan hati negara itu dan memohon pihak berwenang agar terus mengizinkan orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar untuk berlindung di Bangladesh.

Mayoritas penduduk Myanmar, dulu dikenal sebagai Birma, beragama Budha. Negara itu memiliki sejarah panjang ketegangan dengan etnis minoritas, sebagian besar atas dasar agama.

Chin merupakan satu-satunya negara bagian di Myanmar yang mayoritas penduduknya Kristen. Negara bagian itu juga wilayah termiskin dan paling tidak berkembang di negara itu.

Populasi besar Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine terus mengalami diskriminasi dan penindasan dari komunitas Budha yang mayoritas. Meski tinggal selama beberapa generasi, orang-orang Rohingya tidak diakui sebagai warga Myanmar dan tetap tanpa kewarganegaraan.