Tentang Kami

Masyarakat Relawan Indonesia

MRI merupakan sebuah organisasi masa independen, universal dan bebas melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk membela kepentingan dan hak-hak masyarakat dengan berorientasi pada pembangunan masyarakat sipil yang kuat. MRI menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam upaya mengokohkan kebersamaan dan membangun harmoni kehidupan masyarakat.

MRI beranggotakan individu-individu relawan yang memiliki komitmen dan kontribusi dalam menciptakan perubahan positif pada lingkunganya baik lingkungan mikro maupun makro atas dasar prinsip kesukarelaan sebagai wujud tanggungjawab sosial sebagai individu, sebagai warga masyarakat, sebagai warga negara, dan sebagai warga dunia.

Dalam menjalankan inti perannya yaitu mengembalikan kesejatian manusia untuk saling memuliakan, MRI menitikberatkan aktivitasnya pada:

 

PELATIHAN KERELAWANAN

Tujuan kegiatan ini adalah mencetak relawan yang memahami jatidiri dan prinsip kerelawanan, membuka wawasan dan mengasah keterampilan relawan agar dapat mengambil peran dalam aksi-aksi kemanusiaan baik penanganan bencana, maupun program kemanusiaan diberbagai bidang kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam rangkaian pelatihan kerelawanan ini setiap relawan diasah untuk mampu menjadi kontributor perubahan untuk perbaikan kondisi masyarakat dan bangsa.

Rangkaian pelatihan yang dilakukan, diantaranya:

  • Orientasi Kerelawanan
  • Managerial & Leadership Training
  • Paket Pelatihan Total Disaster Management (Penanganan bencana terpadu mulai dari mitigasi, emergency hingga recovery) mulai level basic hingga advance dilakukan secara bertahap.
  • Pelatihan Pengelolaan Program Kemanusiaan
  • Pelatihan Jurnalistik Kemanusiaan
  • Pembekalan berjenjang dalam “Universitas Kerelawanan”, dll

 

PEMBERDAYAAN RELAWAN

Pelatihan dan pembekalan skill saja tidak cukup untuk mengasah kepekaaan relawan terhadap lingkungan sosialnya. Maka tahap lanjutan paska pelatihan adalah pelibatan relawan dalam aksi-aksi kemanusiaan. Relawan diberikan kesempatan untuk terlibat aktif dan terjun langsung dalam Respons atas Bencana Alam dan Bencana Kemanusiaan di dalam negeri maupun Dunia Internasional.

Selain terllibat dalam aksi-aksi bersama ACT, relawan juga diberikan kesempatan untuk terlibat total dalam program-program pendampingan maupun pemberdayaan masyarakat, dengan model kegiatan:

1. Kuliah Kerja Relawan atau Bakti Kerja Relawan

Relawan mendedikasikan waktu dan segala potensinya dalam mendorong serta membersamai masyarakat di komunitas pilihannya untuk meningkatkan kualitas kehidupannya di berbagai bidang baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, dll. Relawan secara berkelompok mneyiapkan konsep program, merencanakan dan implementasi langsung bersama dengan masyarakat. Jangka waktu kegiatan ini disepakati bersama antara relawan dan komunitas/masyarakat.

2. Relawan Pendamping Masyarakat

Relawan berperan sebagai Pembina sekaligus fasilitator yang mendampingi masyarakat dalam menjalani program peningkatan kualitas hidup terutama di bidang ekonomi dan pembinaan mental spiritual.

3. Mobile Volunteer

Aksi regular yang dilaksanakan relawan untuk membantu masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya. Baik dalam bentuk layanan kesehatan, pemberian paket pangan, aksi bersama bersih lingkungan, dll. Semua kegiatan diinisiasi dan dilaksanakan relawan dalam bentuk tim yang solid dan beraksi dengan dikoridori konsep dan perencanaan yang matang sehingga program aksi yang dijalankan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

 

PENGEMBANGAN JEJARING NASIONAL & GLOBAL

MRI membina dan menguatkan jaringan kelembagaan pusat hinga daerah. Hal ini sebagai salah satu upaya agar MRI dapat berperan lebih reguler, akseleratif, dan mampu menjadi lokomotif perubahan yang lebih cepat dan besar. Pengelolaan jaringan MRI berlandaskan prinsip dan spirit kemandirian.

Sejarah Berdirinya Masyarakat Relawan Indonesia

 

Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) didirikan pada 22 Mei 2005 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Aroma kerelawanan pasca tsunami Aceh akhir Desember 2004 sangat menyemangati terbentuknya MRI, karena relawan-relawan yang berkumpul di Banjarmasin pada saat itu juga tak lain adalah para ‘veteran’ tsunami Aceh. Selain itu, harus diakui pula bentuk aktivitas kerelawan terdahsyat yang pernah terjadi di negeri ini pun tertampilkan pada saat tsunami Aceh itu. Bisa dibayangkan, relawan dari berbagai pelosok negeri ini –bahkan dari luar negeri- berdatangan ke wilayah paling barat Indonesia tanpa diperintah, tanpa diminta, tanpa berharap imbalan, bahkan tanpa tahu kapan kerja-kerja kemanusiaan akan berakhir.

Pasca tsunami Aceh, beruntun negeri ini dilanda bencana. Banjir bandang bulan Januari 2006 di Jember, Jawa Timur yang berselang satu hari dengan longsor yang melanda Banjarnegara, Jawa Tengah, menyedot banyak relawan beraksi di dua daerah bencana tersebut. Kemudian para relawan ini seperti tenaga yang senantiasa berpindah dari satu bencana ke bencana lainnya sepanjang tahun 2006. Banjir bandang di Manado, letusan Gunung Merapi Jogjakarta, gempa Jogjakarta dan Jawa Tengah, Banjir bandang Sangihe, banjir besar Jakarta hingga gempa Sumatara Barat, adalah tempat-tempat para relawan mengukir tapak sejarah aksi kemanusiaan mereka.

Tidak hanya donatur dan para dermawan, baik perseorangan maupun dari berbagai korporasi dan institusi yang menyalurkan kepeduliannya. Bentuk kepedulian yang tak kalah pentingnya dan sangat berdampak luar biasa dalam setiap moment bencana adalah peran serta relawan. Dari relawan emergency mencakup rescue, relief dan medis, hingga relawan pendamping pasca bencana untuk penanganan trauma. Bahkan di fase recovery pun peran dan fungsi relawan tetap bermain. Boleh dikatakan, tidak satu pun bencana yang terjadi tanpa peran serta relawan. Dan bahkan, peran yang dimainkan sangatlah signifikan, dari hulu hingga ke hilir. Mereka yang memulai kerja kemanusiaan di fase emergency, dan masih terus berlangsung di fase pemulihan (recovery).

Pendirian MRI, tentu saja dimaksudkan untuk mewadahi beragam bentuk kepedulian yang ditampilkan oleh para relawan dengan berbagai latar belakang dan bermacam keahlian serta konsentrasi mereka. Apa pun keahlian, skills dan konsentrasi mereka, selama dalam bingkai kemanusiaan bisa terwadahi dalam satu komunitas kerelawanan. Sehingga potensi-potensi relawan yang berserakan dapat terhimpun menjadi satu sinergi kemanusiaan yang tak ternilai. “Jika dulu negeri ini butuh pahlawan untuk mengusir penjajah, kini negeri ini membutuhkan para relawan,” ujar Ahyudin, Direktur Eksekutif ACT, salah satu pendiri MRI di Banjarmasin.

Pola keanggotaan berjenjang MRI berdasarkan pada potensi dan keahlian relawan. Diharapkan MRI mampu menjadi wadah untuk mendorong kesiapan segenap warga masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pekerja/buruh, profesional, nelayan, tani, militer, dan profesi lainnya.

 

Hari Relawan Indonesia

Ada satu lagi PR –pekerjaan rumah- yang mesti digulirkan oleh segenap relawan di negeri ini, yakni menentukan tanggal hari relawan Indonesia. Jika setiap tanggal 5 Desember para relawan negeri ini turut serta memperingati hari relawan sedunia, kenapa tidak ada yang mencoba merumuskan dan segera mengusulkan kepada pimpinan negara tentang hari relawan Indonesia?

Ingat, relawan adalah kebutuhan penting dan mendasar negeri ini sampai kapan pun. Tentu ironis jika tidak ada hari relawan Indonesia. Dan sekadar usul, 26 Desember –tanggal terjadinya tsunami Aceh- bisa diusulkan sebagai hari relawan Indonesia. Mengingat pada tanggal itulah aksi terdahsyat kerelawanan yang pernah terjadi, sekaligus menjadi pemicu munculnya bentuk-bentuk kerelawanan di berbagai bencana sesudahnya. Semoga.

Sekretariat Pusat

Menara 165, lantai 10,
Jl. TB. Simatupang Kav. 1,
Cilandak Timur, Jakarta Selatan, 12560
Ph. +62 21 2940 6565
Fax. +62 21 2940 6564
Email : info@relawan.id
WA : 0812 1400 0456
 

Akademi Relawan Indonesia (ARI)

Dusun Gondanglegi, Desa Kemput,
Hargobinangun, Kecamatan Pakem,
Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55582
WA : 0823 2655 4992