Hujan masih mengguyur kota Bengkulu. Cukup deras. Suasana pagi yang dingin tak menyurutkan semangat saya untuk bersiap mengikuti Volunteer Camp Batch 13 Bengkulu. Seperti pemberitahuan di grup WA peserta sejak sepekan kemarin, lokasi acara  akan mengambil tempat di desa Sidourip, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara. Kalau dari kota bengkulu sekitar 70 Km ,dan membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat.

Tas ransel sudah siap . Seluruh perlengkapan selama dua hari sudah beres. Dalam catatan saya tak ada yang terlewat. Ya, maklumlah acara Volunteer Camp yang akan saya ikuti akan berlangsung dialam terbuka. Jadi mesti prepare.

Titik kumpul yang disiapkan panitia ada dua, di kampus Universitas Bengkulu dan IAIN Bengkulu. Karena saya kuliah di Universitas Bengkulu tentu saya akan berangkat dari kampus saya tercinta. Oh, iya saya belum memperkenalkan diri. Nama saya : Febi Intan*, biasa dipanggil Febi . Di kampus saya mengambil jurusan keguruan.

Berdiskusi dalam kelompok, memastikan kesolidan tim

Acara Volunteer Camp (VC) diadakan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bengkulu. Ada yang tahu MRI itu apa ? saya jelaskan sedikitnya ya.. : MRI itu organisasi massa relawan yang tergabung dalam lembaga kemanusian global Aksi Cepat Tanggap (ACT).

MRI wilayah Bengkulu termasuk baru berdiri. Namun antusiasmenya cukup tinggi. Beberapa kegiatan seperti Seminar di IAIN tentang ” Volunteer vs Social Worker” beberapa waktu yang lalu dihadiri tak kurang dari 300 peserta. Selain itu MRI wilayah Bengkulu juga beberapa kali mengadakan kuliah online lewat chat WA tentang kerelawanan dan isu kemanusian. Acara itupun cukup sukses diikuti banyak peserta.

Dari situlah saya berkenalan dengan MRI. Saya berharap bisa mendapatkan pengalaman, ilmu yang berguna dan teman baru yang lebih banyak. Kayaknya kalau cuma sibuk belajar dikampus saja ada yang kurang. Saya merasa harus punya kegiatan lain yang bermanfaat.

Pilihan saya menjadi relawan sebenarnya sederhana saja, biar bisa bermanfaat untuk orang lain. simpel kan ? Walaupun kalau informasi dari teman , relawan MRI punya banyak cluster. Jadi tidak cuma masalah kebencanaan saja, masalah pendidikan, kesehatan, lingkungan, komunikasi, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, bisa menjadi ruang berkarya.

Tentu saja saya semakin tertantang. Dan hujan deras dipagi hari ini tak akan menghentikan langkah saya untuk ikut kegiatan VC, setelah menbaca doa keluar rumah, saya mantab menuju titik kumpul.

Menuju Desa Sidourip

Kampus universitas Bengkulu sabtu pagi itu tak seramai biasanya. Jadwal keberangkatan peserta VC  yang ditentukan panitia jam 07.00 pagi . Nampaknya hujan deras dipagi hari sedikit mempengaruhi jadwal menjadi molor.

Saya dan peserta lainnya akhirnya berangkat sekitar jam 08.30 dan mencapai lokasi VC pada jam 10.00 . Lokasi VC adalah desa transmigran  yang telah lama berdiri. Menurut penuturan warga, desa Sidourif telah ada sejak zaman Belanda. Jadi kalau dihitung sudah ada 3 generasi yang mendiami desa yang sebagian besar penduduknya bergantung dengan hasil pertanian dan perkebunan.

Kontur perjalanan menuju desa Sidourip juga turun naik dengan jalan yang tak terlalu lebar. Dikiri kanan nampak perkebunan karet. Saya cukup menikmati perjalanan walau mobil terisi penuh.

Didesa Sidourif saya menyaksikan , perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet dan beberapa pertanian yang tumbuh subur, secara geografis desa Sidourif terletak di kaki perbukitan. Curah hujan di Sidourif tergolong tinggi. Begitu sampai ditujuan, saya dan peserta disambut cuaca mendung.

Tak menunggu lama, acara pembukaan dimulai pada 10:30 . Bertindak sebagai inspektur upacara, Randa sebagai ketua MRI wilayah Bengkulu. Sedangkan komandan upacara , Azim salah seorang relawan yang berasal dari IAIN Bengkulu. Acara pembukaan juga dihadiri ketua desa, tokoh masyarakat setempat.

Acara pembukaan berakhir menjelang siang. Sementara matahari mulai mencorong . Saya dan peserta diberikan kesempatan istrirahat dan sholat dhuhur sebelum masuk ke acara selanjutnya. Hal unik yang baru saya dapat adalah cara makan siang secara bersama. Makan dalam kelompok membuat saya paham bagaimana berbagi dan bisa menahan ego masing masing.

Makan bersama (Mabar) berbagi menahan ego

Tiap kelompok berjumlah 10-12 orang , kelompok menjadi penting di VC . Karena solid dan tidaknya kelompok akan berakibat pada keberhasilan kelompok.

Mengunduh Manfaat dari Materi Volunteer Camp 

Materi pertama, Wawasan kebangsaan dan bela negara diisi oleh Lettu Azwar anggota Kodim 0423. disini saya mendapatkan materi tentang cinta tanah air , nilai kebhinekaan dan kebangsaan. materi ini menurut saya penting agar relawan memiliki pemahaman yang komprehensif .

Materi kedua , pengantar tentang kerelawanan diberikan oleh Cipto Sugiarto dari MRI Pusat . Materi ini diberikan baru tahap singkat . Dari sinilah saya dan peserta mulai memahami lebih dalam tentang dunia kerelawanan.

Materi ketiga, Materi “mitigasi bencana” yang diisi oleh Dinas Sosial Kabupaten Bengkulu Utara yang diwakili oleh Ibu Siti Fatimah SH. Dalam penyampaiannya wanita ini lugas menyampaikan keinginannya ingin menjadi relawan MRI. Salut untuk ibu Fatimah, saya bangga mendengar keinginannya mau jadi relawan. Saya jadi tambah yakin jadi relawan.

Menjelang sore, Dinas Damkar Kabupaten Bengkulu Utara datang ke lokasi untuk memberikan pelatihan fire rescue menggunakan peralatan sederhana. Bahaya kebakaran menjadi momok menakutkan karena seringkali menimpa masyarakat. Pelatihan penananganan bencana dengan karung, seprei atau bahan kain lainnya diharapkan akan mengurangi resiko terjadinya kerugian yang lebih besar. Saya sih setuju sekali ada pelatihan ini. Sayang, tong dan karungnya tersedia hanya satu, jadi  antrian relawan yang ingin mencoba bertambah panjang.

Menjelang maghrib, hujan kembali turun. Masih ada materi social mapping yang akan dijelaskan Mas Cipto Sugiarto dan materi Kelembagaan dan kerelawanan ACT/MRI. Malam yang gelap ternya memang menjadi lebih gelap karena tenaga listrik mati , selidik punya selidik sih katanya ada korsleting listrik. Ya, jadi gelap gelapan.

Suasana temaram karena mati lampu tak menyurutkan semangat peserta

Sudah hujan , dingin dan sekarang gelap. Lengkap sudah . Tapi nampaknya peserta VC Bengkulu luar biasa . Antusiasme peserta begitu tinggi. Saya acungkan dua jempol untuk peserta VC Bengkulu. Keereeen.

Luar biasanya, ketika materi social mapping. Peserta dengan antusias segera berkeliling ke rumah warga untuk mengisi form social mapping. Dari mapping tersebut didapat apa potensi, permasalahan yang ada di masyarakat. Nah, dari informasi wargalah maka dapat disimpulkan apa yang bisa dilakukan untuk membuat kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Walau hujan cukup deras, berkeliling ke rumah warga tetap menjadi kegiatan setiap kelompok. Wihh, lagi lagi saya cukup bangga.

Api Unggun dan Malam Kebersamaan, Tak terlupakan

Malam semakin larut, tapi saya dan peserta lain nampaknya belum kehabisan energi. Kini saatnya acara api unggun. Kegembiraan pecah dan kami larut dalam suka cita.

Saya bisa merasakan kegembiran malam itu. walau hujan belum sepenuhnya berhenti. Api yang membakar tumpukan kayu yang kami susun membuat udara yang dingin menjadi hangat. Eh, panas deh. Karena saya berdiri terlalu dekat dengan api…he he he.

Setiap kelompok diminta membuat sebuah penampilan , dan setiap penampilan kelompok akan dipilih satu pemenang. Jadilah persaingan antar kelompok yang cukup seru.

Karena malam sudah berangkat semakin larut. Dan rasanya kurang baik juga bila sampai mengganggu istirahat para warga desa. Kami pun memutuskan menyudahi acara api unggun yang seru itu. Tapi yang pasti acara malam ini tak terlupakan bagi saya. Dan saya yakin hal ini juga dirasakan peserta lain.

Hari Kedua,Berbakti bersama Masyarakat

Hari masih gelap, kantuk masih menggayut di mata saya. Tapi aba aba untuk segera bangun sudah berbunyi. Acara dimulai dengan sholat subuh berjamaah lalu senam pagi. Dan tentunya sarapan pagi.

Hari kedua lebih banyak acara lapangan alias outdoor. acara yang berkesan adalah acara kuliah kerja relawan, setiap kelompok punya kegiatan berbeda ada kelompok yang mengadakan acara bakti alam dengan melakukan penanaman bibit pohon, ada kelompok yang mengadakan pelayanan kesehatan dan ada juga yang mengadakan kerja bakti bersama masyarakat seperti membersihkan mesjid, areal pemakaman dan perbaikan mushola.

Setelah dhuhur, diadakan rencana tindak lanjut dengan pembagian cluster relawan. Ada tiga kelompok besar cluster relawan. Relawan DERM, Relawan SDP dan relawan non program. Disinilah saya baru tahu kalau, MRI tak melulu mengurusi masalah bencana. Namun ada cluster lainnya yang bagi saya sangat menantang.

Acara Volunteer camp sangat berkesan bagi saya. Makna kerelawanan yang dulu masih kabur kini menjadi jelas, dan saya bisa merasakan jiwa kerelawan tumbuh dikalangan anak muda seperti saya. Saya juga menyaksikan bagaimana relawan mulai menjadi gaya hidup.

Menjelang sore acara VC Bengkulu 2017 resmi ditutup. Saya dan peserta yang lain akan segera kembali ke Kota Bengkulu. Dua hari yang melelahkan namun membahagiaan. (RN)

 

*Bukan nama sesungguhnya, mohon maaf bila ada kesamaan nama