Bukan sebuah kebetulan jika Diponegoro muda yang bernama asli Pangeran Ontowiryo atau Abdul Hamid (1785) yang juga Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III menjadi seorang pejuang dan petarung sejati, darah kepahlawanan dan keberpihakan kepada kebenaran dan orang kecil lahir dari tempaan yang kuat.

Saat masih sangat belia, ada 3 generasi perempuan yang sangat berpengaruh terhadap spiritual Diponegeoro muda, yang pertama, dari eyang buyutnya yang separuh darahnya keturunan dari seorang kyai besar di Sragen dan cicit dari Sultan Abdul Kahir I, Raja Kesultanan Bima.

Ada generasi dari eyang putrinya yang berasal dari Pamekasan (Ratu Kedaton/istri Sultan Hamengku Buwono II) juga sangat saleh. Dan, dari ibunda yang asal dari Tembayat, sebuah tempat yang cukup berbobot dari sisi spiritual Jawa Tengah selatan dan ibunya Raden Ayu Mangkarawati, juga keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram.

Bukan nasabnya saja yang luar biasa yang menjadikan Diponegoro cemerlang, tapi yang jadi penentu lainnya adalah karena Diponegoro sudah dipersiapkan menjadi orang besar ditangan guru-guru agama yang terkenal dan berpengaruh dijamannya, seperti  KH. Hasan Besari dari Jetis, Ponorogo, ilmu kitab kuning diperoleh dari Kyai Taftazani Kartosuro.

Diponegoro muda juga belajar Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Yogyakarta. Terakhir Abdul Hamid belajar ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, salah seorang ulama thoriqot terkenal dari Salaman, Magelang.

Diponegoro bukan satu-satunya anak emas dari sederet nama pahlawan besar di Indonesia, masih ada Soekarno, Hatta, Soetomo, Ki Hajar Dewantara dan masih banyak lagi yang kalau kita perhatikan mereka besar dan memiliki banyak pengaruh dalam usia yang masih realtif muda. Dan ada banyak peristiwa perjalanan sejarah Republik ini yang mencatat peran penting pemuda di dalamnya.

Dibelahan bumi lain, jauh sebelum kelahiran Diponegoro dan pahlawan-pahlawan besar Indonesia, ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. Suatu hari, di Masjidil Haram seorang guru tengah menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya. Dengan lugas, jelas, dan komunikatif, guru tersebut mengajarkan materi fiqh, muamalah, jinayah dan hukum-hukum kriminal.

Namun ada yang ganjil dalam majelis itu, ternyata Sang Guru jauh tampak jauh lebih muda daripada murid-muridnya. Bahkan di tengah prosesi belajar mengajar, ia sempat minta izin untuk minum, padahal siang itu adalah bulan Ramadhan. Kontan saja “ulah” Sang  Guru menuai protes. “kenapa Anda minum, padahal ini kan bulan Ramadhan?” tanya para murid. Ia menjawab, “Aku belum wajib berpuasa.”

Siapakah Sang Guru yang terlihat nyeleneh tersebut? Ia adalah Muhammad Idris Asy Syafi’i, yang lebih kita kenal dengan Imam Syafi’i.

Kita tak usah heran dengan fragmen ini, karena pada usia belum baligh Imam syafi’i sudah menjadi ulama yang disegani. Usia sembilan tahun sudah hafal Al-Qur’an. Usia sepuluh tahun isi kitab Al Muwatha’ karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadits pilihan juga mampu dihafalnya dengan sempurna. Pada usia 15 tahun telah menduduki jabatan mufti (semacam hakim agung) kota Makkah, sebuah jabatan prestesius pada masa itu. Bahkan di bawah usia 15 tahun, Imam syafi’i sudah dikenal mumpuni dalam bidang bahasa dan sastra Arab, hebat dalam membuat syair, jago qiraat, serta diakui memiliki pengetahuan yang luas tentang adat istiadat Arab yang asli. Subhanallah.

Tesis tentang elit terpelajar dan anak-anak muda sebagai anashiruttaghyir (agent of change) memang bukan hanya milik dunia Islam. Perubahan di berbagai negeri di sepanjang abad 20 telah menjadikan kaum muda terpelajar secara historis sebagai dalil perubahan. Meski bukan satu-satunya kekuatan perubah namun elit dari sebuah pergerakan mestilah kaum terpelajar. Di Indonesia, fenomena lahirnya kaum muda terpelajar di berbagai perguruan tinggi telah mendorong lahirnya organ-organ pergerakan kemerdekaan di awal abad 20.

Dan serasa telah menjadi garis Tuhan, bahwa pemuda (termasuk dalam sejarah Indonesia)  selalu bisa mengambil peran bagi kemajuan bangsanya. Sejarah telah memberi kesimpulan yang sama kepada penghuni bumi, bahwa pemuda selalu menjadi ujung tombak sebuah zaman. Di tangannya tergenggam masa depan. Di tangannya pula jawaban sebuah peradaban akan bermula.

Mari bercermin pada Imam syafi’i dan Diponegoro muda, serta yang lainnya. Imam Syafi’i muda dan Diponegoro muda melakukan percepatan diri sehingga hidupnya selalu terisi dengan prestasi menyejarah hingga kini.

Kita bisa membuat impian menjadi seperti beliau-beliau, membuat obsesi menjadi kenyataan dengan membangun kebiasaan sukses. Belajarlah dari kebiasaan orang-orang besar dan orang-orang  sukses. Berpikir besar, berpikir sukses dan bekerja sukses. Ubah kebiasaan negatif menjadi kebiasaan positif.

Karena at first we make habbit, at last habbits make you .Awalnya kita membuat kebiasaan, pada akhirnya kebiasaan itulah yang membentukmu. Waktu adalah momentum untuk berprestasi. Demi masa, demikian Tuhan kita bersumpah. Bukan main-main tentunya, karena Allah menegaskan bahwa sesungguhnya manusia pasti akan merugi kalau tidak memperhatikan. Anugerah Waktu, Waktu adalah momentum untuk berpartisipasi dan berkontribusi. Pepatah mengatakan “Barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dalam kebaikan niscaya ia akan disibukkan dalam keburukan.”

Wahai para volunteer, pertanyaan besar dalam benak kita hari ini. Bagaimana dengan pemuda Indonesia hari ini? Bagaimana posisi & kontribusi kita hari ini? Keraguan memang tak bisa dipungkiri akan eksistensi pemuda Indonesia saat ini, melihat fenomena anak-anak muda hari ini. Apa peran besar kita untuk perubahan Indonesia yang lebih baik, apa karya besar kita hari ini?

Imam Syafi’i dan Diponegoro serta yang lainnya mungkin tidak mengenal istilah volunteer, relawan atau kesukarelawanan. Tapi kita meyakini kerja-kerja mereka untuk manusia dan kemanusiaan, bangsa dan negaranya serta cintanya akan kebaikan dan perbuatan baik merupakan nilai-nilai dan spirit yang dijiwai dan sejalan dengan kesukarelawanan.

Kerja-kerja kesukarelawanan sebenarnya sudah menjadi bagian dari kultur budaya Indonesia sejak jaman dulu. Dalam lingkup yang paling sederhana, gotong royong bersih desa, membangun rumah, membangun surau, prosesi pemakaman orang meninggal, pesta adat di daerah pedesaan, persiapan musim tanam di daerah pertanian desa, dan lain sebagainya. Istiah kerja-kerja kesukarelawanan pun dimiliki oleh berbagai suku. Misalnya: di Jawa dikenal istilah tarub, sambatan, rewang; juga di Papua, di Palu, Nosimporoa, di Bulukumba dan lain-lain tentunya. Namun demikian, istilah relawan maupun tipe kerja yang dilakukannya baru muncul menjadi bahasan di media massa maupun perbincangan di masyarakat secara luas pada saat pasca tsunami Aceh 2004 dan peristiwa berdarah Mei 1998. Para relawan bekerja untuk menolong para korban bencana, kekerasan, baik secara fisik maupun pendampingan pemulihan psikologis secara intensif.

Banyaknya pemberitaan media massa, forum-forum diskusi, maupun perbincangan sehari-hari mengenai kiprah relawan merupakan wujud pengakuan (recognition) publik atas kerja-kerja para individu yang bergerak bersama sebagai relawan. Tapi lebih daripada itu semangat patriotisme para pahlawan, founding father negeri ini yang melihat penderitaan rakyat Indonesia, lepas dari belenggu kekejaman dan ketidakadilan penjajah, darah mudanya menggelagak dan menyeruak membela kaum tertindas, adalah jiwa-jiwa dan karakter serta spirit yang senafas dengan spirit relawan yang kita kenal hari ini.

Sudah saatnya kita para pemuda yang memiliki spirit volunteerism membuat sejarah baru di bumi pertiwi, sejarah yang dapat memberikan revolusi terbaik untuk bangsa yang mampu mengguncangkan dunia, mengarahkan Indonesia ke arah berkemajuan. Indonesia menjadi barometer peradaban dunia. Ayo berikan kontribusimu untuk negara, sehingga kamu dapat memberikan pengaruh terhadap generasi selanjutnya untuk lebih peduli dan peka terhadap permasalahan bangsamu. Bulan ini adalah bulan Mei, bulan yang juga sangat memiliki sejarah tersendiri di benak masyarakat Indonesia. 20 Mei 2008 adalah Hari yang kita kenal dengan Kebangkitan Indonesia (walau sebagian sejarawan masih menganggap kontroversi). Peristiwa yang di anggap menjadi momentum Indonesia bangkit. Belum hilang ingatan kita akan peristiwa berdarah Mei 1998. Tahun itu juga menjadi peristiwa berdarah yang memiliki sejarah tersendiri di dalam percaturan politik di Indonesia. Wahai volunteer, Rasanya belum terlambat kalau kamu memulai memikirkan kembali apa resolusimu untuk Indonesia yang kita cintai ini?

Ciputat, 1 Mei 2016

M. Insan Nurrohman